Hujan

Rabu, 28 September 2016

Hari-hari ini hujannya awet sekali. Tidak hanya di Jogja. Ternyata Jakarta juga. Kata Fidah, di Bangka juga

Sepagi ini sudah hujan. Kalau saat-saat masih sekolah, shalat jamaah beralih ke living room, apel pagi akan diliburkan, dan berangkat ke sekolah menjadi tantangan tersendiri.

Hujan katanya membangkitkan banyak kenangan. Entah kenapa. Tidak hanya menguarkan bau khas hujan, tapi juga menguarkan hal-hal lama yang memaksa diingat. Membuat memori me-reka kata-kata (galau) mana yang bisa dikeluarkan pada sosial-sosial media. Sampai lupa bahwa hujan adalah waktu mustajab untuk doa.

Maka, daripada yang saya sebut sebelumnya, mari langitkan doa-doa terbaik :")

Zahra

Selasa, 27 September 2016


Halo Zahra, apa kabar?
Tulisan ini kumulai pada 6 September 2016. Saat aku kangeeen banget sama kamu, kamunya lagi sibuk urusan Brunei dan banyak hal lainnya. Dan setelah kuobok-obok isi hardisk, satu setengah tahun terakhir kedekatan di asrama tidak pernah menelurkan foto kita yang berdua doang, ya. Padahal kita se-tim-sat lebih dari enam bulan. Dilanjut obrolan pas kamu mau nyiapin KKN dan setelahnya. Diskusi di kasur masing-masing sama teteh Ditta pas di kamar pojok nomor empat. Kamu yang suka numpuk buku, minta bangunin, begadang parah, sampai kamu yang sekarang.

Hari ini aku membaca postingan terakhirmu di blog. Maka aku selesaikan tulisan rindu ini untuk memelukmu dari kejauhan. Menyenangkan sekali membayangkan dirimu yang penuh ide dan sangat semangat memulai ide baru. Walau aku tahu ada saja yang bilang bingung sama kamu yang terlalu banyak ide dan urusan, tapi aku tahu, tahuuuu sekali semangatmu untuk perbaikan umat.

Halo Zahra, apa kabar?
Menyenangkan sekali sepertinya kehidupanmu akhir-akhir ini yang penuh gairah. Senang sekali mendengarnya, karena kalau aku melihat kaca, hal-hal itu yang sekarang kabur dari diriku untuk bersemangat memulai hal baru. Maafkan aku yang belakangan tidak menyapa, bahkan aku ragu menuliskan satu patah dua patah kata komentar di blogmu sebulan belakangan. Padahal kamu sendiri yang bilang, kan, kalau aku orang yang sangat senang komen di sana. Aku ikut mendoakan kebaikan untukmu, semoga Allah menguatkan pundakmu mewujudkan segala mimpi untuk perbaikan umat, beserta menemukan parter hidup terbaik untuk membantu bersinergi mewujudkannya.


Saling mendoakan dalam kebaikan ya Zahra.


Peluk jauh Deresan-Imogiri Timur.

untuk Zahratul Iftikar Jadna Masyhida,
di manapun ia berada saat ini.

Kamis, 22 September 2016

Maka barangkali, jika Allah pemilik segala. Jika Allah penentu segala. Lupa kita pun ada maksudnya. Lalai kita ada tujuannya.
Mempercayai Allah sebagai konsekuensi keimanan berarti yakin setelah kesulitan ada kemudahan. Meyakini Allah menilai segala usaha kebaikan, walaupun itu kecil. Yakin seyakin-yakinnya.  Setelah usaha panjang, yang jika hasil dunianya tak nampak, semoga Allah ganti sebagai bekal hadapi akhirat.
Karena selama segalanya ada pada koridor syariat, ridha Allah lah sebaik-baik jawabnya.
Senyum itu harus senantiasa terkembang sebagai bentuk upaya tabungan sedekah. Walau akhir-akhir ini, tetiba rasanya jadi berat. Kadang-kadang setelah memupuk semangat, perjumpaan satu dua meruntuhkan dinding pertahanan lawan sifat kekanakan. Kadang-kadang, setelah menabung percaya diri, obrolan kanan kiri patahkan keyakinan. Padahal, kata Nadiyah yang penting kita yakin.
Hari ini, saya menyadari. Saya bukan takut ditinggal karena saya takut pergi sendirian.
Saya takut ditinggal
.
.
.
karena saya takut tidak bisa menyusul....


Masih di Jogja.
Masih bingung besok ikut ke IC dan nikahan eja atau enggak. Padahal sudah beli tiket pp.

Terimakasih : kabar buruknya, dir; kabar bahagianya, lim; teleponnya, fah; obrolannya, cep; optimismenya, kakfin, pertemuannya, dis. Semoga ini semua melahirkan kebaikan.
Siang menuju sore ini, terlalu banyak hal yang terjadi .

Burger Isi Gado-Gado

Kamis, 15 September 2016

Siang ini, ditengah keinginan saya membeli lotek-atau biasa dikenal oleh orang Jabodetabek sebagai gado-gado (karena di Jogja lotek dan gado-gado adalah makanan berbeda) atas keresahan saya terhadap keinginan mengunyah sayur setelah terpapar daging idul adha, saya teringat hal yang pernah saya lakukan dahulu di rumah.

Kala itu siang-siang Ibu saya pulang membawa gado-gado. Lupa jumlah bungkusannya, saya makan bersama adik-adik dari satu bungkusan yang sama. Saya mengapit gado-gado di antara kerupuk lalu bilang ke adik saya, "Burger isi gado-gado!" dengan nada seceria mungkin. Lalu adik saya tertawa riang sekali. Dan kemudian nyaris tiap suapan kami akan mengulang hal yang sama, menyelipkan gado-gado di antara kerupuk seolah-olah kerupuk adalah roti burger dan isi gado-gado sebagai dagingnya. Dan kami bahagia dengan alasan yang kami buat sendiri.

Saya lupa itu kejadian tahun berapa. Tapi kalau tidak salah ingat, saya masih aliyah. Dan adik bungsu saya yang baru lahir di akhir tahun masehi ketika saya kelas 9 hanya memperoleh tiga kemungkinan : umur 1, 2, atau 3. Ah, barangkali itu saat dia tiga tahun. Rasa-rasanya itu usia yang cukup layak kalau mengunyah gado-gado.

Saya mengenang kejadian itu sambil mengingat betapa singkat usia yang saya habiskan bersama adik saya. Sekolah tidak tinggal di rumah. Jarang-jarang pulang. Membuat saya hanya mengalami sebagian kecil perkembangan adik-adik kecil itu. Saya mengenang kejadian itu sambil mengingat betapa saya mau saja berulangkali melakukan hal bodoh menyebut kerupuk-gado-gado-kerupuk sebagai burger agar dia, dan saya juga, tertawa bersama. Saya mengenang kejadian itu sambil mengawang-awang betapa kita harus berpandai-pandai memosisikan diri menghadapi anak-anak(kita kelak)-sesuai usia dan zamannya.

Di tengah perjuangan penghabisan masa studi ini, saya selalu punya keinginan untuk pulang ke rumah setelah selesai segala urusan di Jogja. Sebagaimana cerita-cerita yang saya dan Nadiyah saling tukar, posisi menjadi anak pertama dan punya adik yang masih kecil, menerbitkan keinginan untuk segera selesai dan pulang. berKembali menjadi anak Ummi, kembali menjadi kakak-nya para adik, yang ada dan hadir di rumah. Yang belajar dari proses-proses hidup yang ada di rumah dan ikut terlibat membantu proses-proses itu. Yang menjadi tempat berbagi para adik soal cerita apa yang ada di sekolah. Langsung mendengar dan bukan sekadar via telepon.

"Dek, ini ada reading time di jadwal, bawa buku cerita sendiri apa udah ada di sekolah bukunya?"
"Biasanya sih Fatih baca buku pelajaran Mbak."#tepokjidat

"Ummi, Fatih kayaknya nggak kuat deh puasa arafahnya. Nanti zuhur buka ya? Kalau zuhur buka, dosanya yang diampunin cuma setahun aja ya?"

"Mbak ini ada kuis Bobo Mbak! Fatih udah tau jawabannya. Cepet Mbak, kirim-kirim lewat email Mbak Fitri. Wah nanti Fatih menang. Yang kemarin ngirim juga nanti menang lagi."
"Dek, yang ngirim kan nggak cuma Fatih doang. Ini pesertanya se-Indonesia."
.
.
terus pada kuis yang pertama dia beneran menang *terharu
"Wuuu...keren kan Fatih"-kirim voice note pake hape Ummi. Dapet tas dari Bobo.
.
pas ditelepon saya sama Ummi
"Mi, hadiah dari Bobo udah sampai?"
"Udah Mbak."
"Terus gimana si Fatih? Seneng?"
"Seneng Mbak.. Terus dia bilang, Mi tas di rumah udah banyak, kita kasih yang nggak mampu aja ya nanti." #terharu

"Mbak, Fatih libur sampai Rabu. Kamis masuk potong kambing. Paling nanti makanya sate lagi."
"Kok tau Dek?"
"Kan taun lalu juga gitu, Mbak. Hehe. Kayaknya sih."

"Fatih kenapa nangis?"
"Tadi Fatih naik sepeda, terus ada yang ngatain Fatih sok di jalan."-ngelanjutin nangis.

"Fatih mau sarapan sama bekal apa?"
"Apa ya Mbak...Fatih bingung."-saat itu dia lagi sariawan.
"Mbak...Fatih bingung, Fatih puasa aja deh Mbak..."
"Lah puasa apa Dek emangnya? Kan besok Jumat"-menahan ketawa.
"Puasa hmmm. Puasa Daud nggak boleh ya Mbak sehari aja?"

Bogor, 11 Januari 2016




Randompost

Kamis, 08 September 2016

"I've several times started learning XUL, but every time got distracted by other problems in life."

ternyata ada juga yang ngomong gini di internet . I know what you feel bang *emangnya abang-abang.

-Kamis 8 Sept 16, 21.52
Lab Mikrobiologi, Gedung Pascasarjana
nemenin ma twins Ibu Direktur Kopma Ufairoh Nurulhayah ngelab
//terus ngasih bukti

mari sudahi pencitraan ini

#Milad Gradia7or (Mungkin) Part 1

Selasa, 06 September 2016



#kangen eh 

meskipun abis itu obrolannya : 
[5/9 14:58] Dilho Fadhilla Husnul Khotimah: Wkwk jd kyk wishlist
[5/9 14:59] Dilho Fadhilla Husnul Khotimah: *wish lists
[5/9 14:59] Sarah Nur Afifah Shabrina: Paling diantara semua itu yg jadi kenyataan hanya beberapa. Wkwkk.
[5/9 15:00] Sarah Nur Afifah Shabrina: Itu tape ketan coy. Di toko banyak.
[5/9 15:18] Nida' Hajidati Fauziyyah: Bermimpi itu boleh 😂
[5/9 15:21] Faradisa Bintana Aulia: Bermimpi itu gratis
[5/9 15:22] Faradisa Bintana Aulia: Mewujudkannya bayar


sehari sebelum DL pengumpulan skripsi buat bisa wisuda November
tetapsajatidakterkejar
semogafebruarikekejaryanak /('_')

Sabtu, 03 September 2016

"Gapapa Jelek Yang Penting Sombong. Sombongin dulu, pede-in aja dulu. Kalo diapresiasi kita makin pede. Kalo dikritik kita jadi belajar. Ga akan ada ruginya sama sekali."
-Chandra Liow via iqbalhariadi.com di postingan yang ini

Kamis, 01 September 2016


boleh saya ganti sedikit?

seperti hadirmu...di kala senja. jujur dan tanpa, bersandiwara. Teduhnya seperti...hujan di mimpi.

Tapi benar, semesta bicara tanpa bersuara, dan sepi itu indah, percayalah.

sedih adalah ketika saya sedang mentok, saya akan ingat banyak orang, akan ingat kenangan-kenangan, akan ingat janji, akan ingat hadiah dan harapan pemberinya, akan ingat hal-hal yang sedang tidak ada mengelilingi saya, akan ingat betapa kerennya mereka melewat banyak hal dalam hidup mereka.

Tapi, seperti seseorang bilang, kamu bukan mereka.

semoga kita semua tetap saling mendoakan :"





Klarifikasi

Selasa, 30 Agustus 2016

"Orang yang hanif, yang mau berpikir itu kalau dapat info nggak akan mudah terprovokasi. Dia akan berfikir dan berusaha tabayyun (klarifikasi)."

-Ummi, di telepon.
Banyak banget yah hal-hal di dunia ini yang di telan mentah-mentah aja, dipercaya begitu saja, bahkan tanpa berpikir untuk klarifikasi ke pihak-pihak yang berputar-putar kita omongin.

Keluarga

Minggu, 28 Agustus 2016

Sebagaimana postingan sebelumnya, ingatan soal ini menstimulus saya untuk meninggalkan print-printnan yang sedang saya baca. Sudah gemas rupanya.

Bukan tentang keluarga saya (atau mungkin nanti ada sebagiannya). Tapi saya pengen cerita soal keluarga, secara umum, sepengamatan saya.

Suatu ketika saya menemukan realita kakak kelas saya, yang gaul banget tapi termasuk yang saya respect-in karena gaulnya bukan tipikal hedon. Yang sederhana, dan belakangan saya kagum karena cerita temen soal kehati-hatian kakanya milih makanan. Yang lebih paham dan tau menempatkan bagaimana bersikap sama tipikaal orang kayak begini dan begitu. Yang saya kira termasuk tipikal objektif yang nggak mudah misuh kalau ada isu baru, yang barangkali sekelilingnya lebih suka misuh duluan.

Terus randomly saya baru tau kakanya ini kakanya temennya temen saya di kampus lain. Terus saya jadi kepo kan #duh. Terus ada kesimpulan yang saya tarik. Soal keluarga. Ada sikap-sikap si kakak yang merupakan cerminan dari keluarganya.

Suatu waktu saya teringat sama cerita orang yang ibunya rajin banget sholat sunnah. Bukan cuma yang muakkad, bahkan yang ghairu muakkad juga dikerjain. Syukrul wudhu kalau bisa pun dikerjain. Belakangan, pasca sholat anaknya suka keinget ibunya yang nyaris selalu nambah sholat sunnah. Meski nggak selalu ngefek sama anaknya jadi serajin ibunya, tapi rajin dia secara otomatis jadi alarm tersendiri buat ngingetin dia soal keutamaan shalat sunnah sebagai penyempurna shalat wajib.

Saya keinget cerita temen, anak psdm di salah satu organisasi kampus yang sering dicurhatin temen-temen organisasinya. Dia bilang, rata-rata temen yang punya masalah adalah karena ada aja hal yang brmasalah di keluarganya. Temen saya ini meski sibuk banget tapi njaga hubungan sama orang-orang di sekitarnya cool banget. Termasuk keluaarga, bahkan se kakek neneknya. Dan boleh jadi, itu pula yang membuat dia sestabil itu di perhelatan dunia kampus dan bisa jadi tempat curhat yang baik buat anak-anak di sekitarnya. Karena di rumah dia juga sangat didengar dan dia punya tempat pulang yang nyaman di keluarga.

Saya juga teringat soal orang yang sebelum kuliah ibunya cerita kalau beliau pernah menarget usia 19 tahun untuk kurban pertama kali. Jadilah si anak berupaya menarget pada usia yang sama dengan ibunya, 19, sebagai target kurban pertamanya. Dan setelahnya dia tetap menjaga semangat berkurban itu agar tidak putus di usia selanjutnya.

Saya teringat teman saya yang punya cita-cita tinggi sekali soal sekolah, ayahnya dosen, dan juga sekolahnya tinggi, Saya ingat teman saya yang ayahnya termasuk pejabat publik, lalu ia juga ingin jadi pejabat publik, menjadi pemutus kebijakan yang baik untuk daerahnya. Saya ingat teman sya yang begitu bangga dengan ibunya yang ibu rumah tangga, yang bisa mengajari dia apa-apa lebih dulu daripada sekolah. Sehingga dia merasa ranking di sekolah yang dia peroleh itu wajar, karena itu memang hal yang ia pelajari di rumah. Semangat temen saya ini tinggi buat ikut sekolah calon ibu, yang katanya nanti kalau nggak secepet itu berguna buat dianya, dia bisa sharing ke ibunya materi yang didapat. Saya teringat foto-foto wisuda yang meluap-luap di sosial media, diupload foto yang  bersama orang tua, atau jika tidak, maka captionnya akan mebawa-bawa orang tua. Menyatakan terima kasih, menyatakan dedikasi, menyatakan merekalah alasan dan atau penyemangat terbesar di balik seluruh perjuangan ini.

Baiklah, barangkali ini memang tidak bisa terlalu di generalkan bagi semua orang. Tapi saya ingin menarik kesimpulan.

Bahwa keluarga memberikan efek yang sangat besar bagi anak-anaknya. Pola pikir, pola asuh, pola berpakaian, pola mengambil keputusan, bahkan yang remeh sampai pola ketawa, pola milih makanan, cara masak. Juga standar-standar dalam keluarga yang akan menurun pada anak-anaknya. Sekali lagi, boleh jadi memang tidak semua.

Dan....sesunggunya poin dari perenungan ini semua membawa saya pada satu titik pertanyaan besar, keluarga seperti apa yang kelak akan saya bangun :"

//habis baca ini jangan-jangan komennya yaelah fit--". Tapi saya sungguhan serius kepikiran ini dari hal-hal yang diurai di atas.

karena keluarga, dari pengamatan-pengamatan itu, adalah batas, adalah pengendali, adalah lingkungan pertama, adalah tempat pulang, adalah titik bangkit, adalah pijakan, adalah tempat menjadi diri sendiri. yang menjadi sekolah keseharian anak-anaknya, karena di sanalah ia melihat bagaimana keseharian orang tuanya. yang menjadi pola kopian yang akan mengganda. yang akan jadi pola sikap, atau bahkan pola hidup. jadi orang-orang, jadi lingkungan yang pertama kali diliat, dan dijadiin referensi.

makanya terus jadi mikir, bahkan terbersit takut. tapi memang nggak ada jawaban lain selain hadapi dan terus belajar sih, to be honest.

:")


Rindu

Sabtu, 27 Agustus 2016

"Ra...gimana ya, aku kangen tapi gak tau kangen siapa..." kata saya pada sekjen partai kenamaan kampus, sebelahan kursi di ruang tamu.

Dianya cuma ketawa. Saya udah gak konsen baca print-printnan.

...
Adalah...teman bicara
siapa saja atau apa
siapa saja atau apa

jendela, kursi
atau bunga di meja
jendela, kursi
atau bunga di meja
sunyi...


sejak awal bulan saya merasa butuh temen bicara, pas itu randomly inget lirik lagu ini, yang sering banget diputer jadn di aula atas asrama sampe akhirnya sempet ganti status wa pas itu, hahaha.
kalo nemu gambar jendela, kursi, sama bunga di meja. pengen di foto.

akumulasi heu. random keinget cerita kakak kelas.cerita soal keluarga.dan tetiba baca tulisan izzah di buku kenang-kenangan kelas tiga aliyah.nanti saya cerita atu-atu deh.

maaf baper ya.

Bunga Matahari

Rabu, 24 Agustus 2016

suatu hari, kamu bertemu bunga matahari

yang terangnya memancar tapi tak silau, yang melihatnya, mencerminkan semangat enerjik. ada tidak sebagaimana bebungaan lain yang menunjukkan kecantikan khas bunga pada umumnya, dan istimewa dengan itu. bukan tipikal bunga romantis, tapi menyenangkan dipandang.

maka, teruslah tumbuh sebagaimana bunga matahari. menjadi dirinya sendiri. mengikuti cahaya langit, tapi tetap berpijak pada bumi. terus tumbuh dan memancarkan kecemerlangan. terus bersinar, dan memberikan kebahagiaan pada sekitar.

teruslah tumbuh, teruslah bersinar. tapi tentu saja, tetaplah berpijak :")

(belum ketemu bunga matahari asli, pakai yang dari kertas dulu ya :") )

Boneka Hafiz-Hafizah dan Cerita Teman Saya

Senin, 15 Agustus 2016

Temen-temen tau boneka Hafiz-Hafizah yang lagi ngetren belakangan ini? Boneka yang intinya capable buat murattal, doa, cerita nabi, dan lain sebagainya. Bahkan katanya juga bisa diajak bicara(tapi sya juga belum tau detilnya). Yah boleh lah kalo mau liat-liat di sini kalo sebelumnya belum pernah denger #sayabukanpromosi.

Ada pembicaraan yang cukup menarik beberapa minggu yang lalu. Jadi temen saya di grup angkatan (S)MAN lagi promosi boneka ini. Kayanya dia distributor gitu sih, atau mungkin bantuin temen jualan, entahlah saya juga belum klarifikasi langsung. Tapi intinya dia promosi di grup itu, di mana kami seangkatan udah punya tiga ponakan, jadi promosinya udah bukan buat ponakan (masing-masing) atau anak temen (masing-maisng), tapi juga literally anak(buat temen kami yang emang udah jadi ibu beneran).

Teman 1 : Itu **jutaan gak sih? Ponakan w pengen banget punya wkwkwk
Teman Jualan : Nggak kok Teman 1. Nah Teman 1 buat ngasih ponakan tuh, harganya ga nyampe segitu.
Teman 2 : Ponakan gycen (nama angkatan) tuh dari X atau Y wkwk (X dan Y adalah teman yang sudah jadi Ibu)
X : Dari kakaknya lah kalau Teman 1 mah
Teman 2 : Wah X langsung nongol
Teman 3 : Ayo X buat dedeknya boleeeh
X : Heuuu aku pengen tapi kata Kak (sebutnamasuami) "kita aja yang ngobrol depan dia"😂😂
Teman 1 : hahahaha
Saya : Waaaah (y)
***
Sesungguhnya ada yang saya kagumi dari jawaban suaminya temen saya : "kita aja yang ngobrol depan dia"

Karena orang tua adalah guru pertama. Karena orang tua itu tidak tergantikan.
Karena bagi saya kata-kata itu kayak kalimat kebersediaan penyediaan waktu. Karena suka masih sedih saya mah kalo liat ada orang tua yang ngasih gadget atau mainan canggih biar anak gak rewel, berhenti nangis, dan lain sebagainya, sementara setelah anak pegang gadget orang tuanya sibuk sendiri (juga) dengan gadgetnya.

Tidak mau berpanjang-panjang. Udah gitu ajah. Tapi ini bukan berarti saya tidak mendukung boneka hafiz-hafizah itu yah. Tentu saja saya dukung visinya yang ingin mendekatkan si anak dengan Islam :")


Elpiji : Nyalakan Cinta Keluarga

Sabtu, 13 Agustus 2016

entah ada taglinenya dari kapan, tapi saya baru ngeh sama tagline ini pas pulang ke rumah kemarin. 

bisa banget lah taglinenya nyalakan cinta keluarga <3

-tabung gas di rumah, akhir Juli 2016

How Geek Are You?

so now, how geek are you?

menemukan ini depan mushala lantai tiga gedung SIC,
2 Agustus 2016

Jumat, 12 Agustus 2016



Ada sepucuk surat yang ingin aku sampaikan padamu.  Kupikir dalam hening, di tepian jendela sambil membisu menatap langit berbintang jarang yang mengingatkanku pada langit subuh di suatu tempat. Tempatmu bosan melihat kebiasaanku mencari gemintang di kerumunan langit kelam.

Cinta Karena Allah

Minggu, 07 Agustus 2016

"Rasa sayang itu harusnya membuat kamu tidak rela orang yang kamu sayang masuk neraka. Karena sayang itu, peduli sekarang dan nanti."
.
.
.
"Cinta karena Allah adalah ketika kamu mencintai Allah dulu dibandingkan yang lain. Ketika mencintai Allah sudah jauh lebih lama dibandingkan yang lain. Menjadikannya prioritas utama dibandingkan yang lain."
***

Sejujurnya saya cukup tertegun mendengarnya. Terutama yang tentang cinta karena Allah.
mendengar-mencatat-membaca-mengulang-berpikir.

Kadang hal kayak gini Allah datengin tepat pada waktunya.

Bukan soal sayanya (wkwkwk). Belakangan saya dapat cerita baik yang curhat maupun yang ngebantuin prosesnya orang. Ada curahatan temen yang saya salut banget, dihubungin terus sama kakak tingkat. Temen saya lagi berusaha keras menghindar, setelah dulu sempat dekat. Keduanya, uh saya tau banget aktif di mana ekstra kampusnya yang juga erat dengan aktivitas Islam-meski saya gapernah interaksi langsung sama kakaknya, tapi namanya cukup sering saya dengar-mungkin karena temen saya ini sering nyebut nama itu, baik sadar maupun tidak sadar, dalam cerita-ceritanya. Yah seaktivis Islam apa juga belum bisa menjamin bagaimana bersikap. Yatapi, kalo aktivis yang erat ama Islam aja masih bisa kegoda, apalagi yang belum banyak belajar Islam #hiks #ayobelajarislamlebihbanyak

Ada kisah proses, yang saya dengar lewat seorang kakak. Betapa si perempuan, begitu ada yang tertarik, langsung menghubungi orang yang bisa dijadikan perantara untuk membantu. Sebisa mungkin pengen terjaga. Dari ceritanya, prosesnya rumit. Apalagi ada latar belakang budaya si lelaki yang mengharuskan keribetan itu ada-bahkan untuk acc-nya. Tapi kalau jodoh-katanya sih-pasti Allah permudah. Meski tentu, cobaan itu ada.

Juga cerita lain yang sempat saya perhatikan, kisah orang yang saya cermati, juga cerita via LINE yang bisa menghabiskan tiga jam, yang kesemuanya, kadang suka sadar nggak sadar, akan merefleksikan juga pada diri saya sendiri-dan apa yang saya lihat dan saya maknai .

Terus saya denger kata-kata di atas pas kajian di Masjid LPP sebelah XXI. Kajian reramai yang diisi Ust. Felix Siauw, khusus ngomongin cinta, meski sebelumnya ngomongin dulu hijrah Islamnya karena ini berhubungan sama orang yang menjadi pacar beliau sebelum dan bahkan sampai masuk Islam, hingga apa yang terjadi sesudahnya. Di mana sebelum saya kesana, saya ngobrol sama orang, sayanya cerita apa, eh lawan bicara saya entah kenapa ngomongin ikhtilat.

Kadang saya ngerasa mestakung, ginian mah. Selain yang saya omongin soal obrolan temen tentang ikhtilat. Seluruh cerita yang saya dengar dan amati sebelumnya adalah kisah yang saya dengar literally seminggu belakangan. Entah kenapa bisa pas terjadinya sekarang-sekarang ini banget. Juga galau-galau yang soon to be alay di masa depan yang sempat dirasakan akhir-akhir ini, termasuk kebimbangan saya melakukan sesuatu.

Dulu pas saya denger cinta karena Allah, saya hanya berpikir bahwa itu adalah cinta pada seseorang yang (1)kita mencintai dia karena akhlaknya mengingatkan pada Allah dan (2)ia adalah seseorang yang bisa meningkatkan cinta kita juga ke Allah.

Barangkali itu bisa benar. Tapi terus saya merasa makin kaya dan sempurna pahamnya ketika dengar pengertian ini :
Cinta karena Allah adalah ketika kamu mencintai Allah dulu dibandingkan yang lain. Ketika mencintai Allah sudah jauh lebih lama dibandingkan yang lain. Menjadikannya prioritas utama dibandingkan yang lain.

Cinta karena Allah adalah cinta yang kamu mencintai Allah dulu.
Artinya segala yang kamu lakukan, kamu timbang-timbang dengan matang : itu diridhain Allah nggak ya? Segala ah-nggak-papa, ah-kan-gini-doang, yaelah-ama-yang-lain-juga-gitu-kali itu apa emang udah verified diridhai Allah? #terusmenghelanafaspanjang. Perlakuan yang sama ke banyak orang aja belum tentu Allah ridha. Pada akhirnya emang hal ini menuntut kita buat tau dan mau gak mau harus belajar lagi soal apa aja yang boleh dan engga, dalam segala lini kehidupan.

Cinta karena Allah adalah cinta yang kamu sudah lebih lama mencintai Allah dibandingkan yang lain.
Jadi, sepanjang sejarah hidup kita ini, apakah kita sudah lebih lama cinta sama Allah? Iya gitu? Atuh pede banget. Seberapa banyak kemudian alokasi waktu yang terbuang untuk berinteraksi, mengingat, mengkepo, dan lain sebagainya kalau dibandingkan sama ibadah (dalam artian luas, ya-termasuk menjalankan amanah, menuntut ilmu, dst.).

Cinta karena Allah adalah ketika kamu sudah memprioritaskan Allah.
Yakinkah sudah bisa memprioritaskan Allah dengan usaha maksimal? Seberapa sering nggak menyegerakan shalat? Seberapa sering menolerir diri sendiri dan berpikir dua kali dalam melakukan amal kebaikan?

Itu susah? Jelas. Soalnya ngelawan nafsu. Soalnya ngelawan tren. Soalnya ngelawan kenyamanan. Soalnya ngelawan naluri, karena kecenderungan pada lawan jenis itu fitrah. Tapi Allah punya aturan tuh. Tugas kita sebagai orang yang yakin sama Allah dan Islam, ya ngejalanin aturannya.
.
Soalnya butuh tekad keras buat bisa konsisten.
Soalnya butuh membiasakan.
Soalnya butuh melawan kebiasaan sebelumnya :".
Soalnya, seperti kalimat pertamanya : Rasa sayang itu harusnya membuat kamu tidak rela orang yang kamu sayang masuk neraka. Karena sayang itu, peduli sekarang dan nanti.

*yang masih banyak belajar. mohon ingatkan kalau saya lalai.
duh, ini mah tamparan juga kok buat saya.
kalimat-kalimat tadi btw menjawab kebingungan atas keinginan plus minus beberapa hari sekitaran hari ini euy.
.
semuanya, biar melangit saja :")
karena yang mencintai Allah, akan saling mencintai dengan standar yang sama, yang akan mengembalikan dan memasrahkan seluruhnya padaNya.

Dari Anas radhiyallahu ’anhu , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
“Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.”(HR Bukhari dan Muslim)

Happiness Laboratory-Quote

Jumat, 29 Juli 2016

highlight : 
dua manusia bertumbuh bersama; it means saling membangun, saling menguatkan, saling bertumbuh.

"Kita baru bisa mengatakan bahwa cinta kita sejati jika hati kita bisa melepas dengan tulus, berjarak tanpa takut dilupakan, dan berpisah tanpa khawatir kesepian."

Happiness Laboratory-Urfa Qurrota 'Ainy
Cisitu Baru, 29 Juli 2016

Jerawat Fatih

"Mbak, jerawat Fatih sakit...!" Fatih teriak dari dalam kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka, ketika akan gosok gigi sebelum tidur.
Saya kaget dong. "Jerawat?!" Ini anak 8 tahun juga belom....
"Eh kok jerawat, apa Mbak itu namanya? Apa...?" Susah banget dia mau ngomong.
"Apaan Dek?"
"Sariawan, hehehe. Fatih salah. Mau ngomong sariawan, eh malah jerawat."

*ketawalahkamiberdua*

Rumah.
Tiga pagi bersama adik tanpa Ummi.

Ayam Lada Hitam, Chef Hilmi, dkk.

Selasa, 26 Juli 2016

-masakan chef Hilmi, Alwan, sama Reyhan

jadi ini saya disuruh mengendorse masakan chef Hilmi, Alwan, sama Reyhan. Sebenernya yang utama si Hilmi itu sih, wkwkwk. Ketiganya adalah dedek Astonic Dralen Relaston, adek angkatan yang lulus smpnya sama kaya saya lulus (S)MAN (baca : ngga pernah ketemu pas sekolah di IC), yang baru saya kenal dan temui waktu mampir ke Sendai.

Baiklah, intinya, itu ada ayam lada hitam yang super enak dan nagih (yang hanya bisa ditemui kalau kalian ketemu Hilmi-dan dianya mau masakin-.). Lalu ada capcay buatan Alwan, koor Imtaq OSIS merangkap pemain band(?). Juga tahu isi buatan Reyhan. Rasanya semuanya enak, ditambah kebersamaannya jadi super enak.

Untuk resep saya nggak bisa ngasih bocoran karena kalau nanya ke chef utama syaratnya harus jadi Hilmi dulu *itu kan susah banget-__-*. Jadi tujuan postingan ini pada akhirnya adalah saya mau promosi kalau tiga dedek ini pandai memasak (dipaksa kerasnya kehidupan Jepang #eh). Dan kalau kalian diberi kesempatan ketemu mereka, mintalah mereka memasak *terus mau spoiler ke angkatan @astonic.dr biar ditagih #ketawajahat.

Anyway, menyenangkan sekali ketemu dengan mereka. Meski baru kenal dan ketemu, sambutannya baik banget dan luar biasa banget #perlurepetisi. Terimakasih sudah menjamu kami dan nganter-nganter liat oleh-oleh dan nunjukin yang halal-halal. Sejujurnya, saya pengen makan ini lagi :9. Semoga dikasih kesempatan buat ketemu lagi, ya dedek-dedek (ini panggilan dari Ipeh btw).

Dan see, kebaperan Reyhan bakda kumpul bareng IAIC Sendai. Saya jadi terharu :")

mau ngasih bonus foto lagi
ki-ka atas : alim-alwan-reyhan, bawah : saya-ipeh-hilmi

ki-ka : salman-gian-hilmi-taqwa-reyhan-alwan-alim-saya-qarri-ipeh. minus akmal yang nyusul datangnya.

sama mau ngasih satu foto kebanggaan Gycen lah. 
Foto mahasiswa S2-imam masjid-koorjurnal-anakband-anakpuasadaud

Terimakasih berbagai jamuan dan sambutannya senpai :) !
Semoga lancar ujiannya, diberi berbagai kekuatan dan kemudahan, dikuatkan dalam menjalani hari, lancar penelitiannya, lancar baito, lancar rezekinya, dan semoga Allah mudahkan rezeki buat menyambung rindu pulang ke tanah air :')

salam jauh dari sudut Cibinong :)

Drinking Game

Senin, 25 Juli 2016

Ada satu hal yang sempat membuat saya shock selama summer program kemarin. Namanya drinking game. Terjadi di H+2 lebaran. Super sesuatu bangetlah lebaran tanpa rasa silaturahim-silaturahim khas Indonesia di hari H dan H plus-plusnya.

Jadi hari itu seorang teman Rusia saya ulang tahun ke-20. Kami diundang ke kamarnya pukul delapan malam, yang kemudian mundur jadi setengah sembilan atau pukul sembilan-lupa. Saya dan beberapa teman yang belum pernah ikutan keluar bareng buat cari makan menganggap ini sebagai salah satu cara untuk bisa membaur di waktu kosong karena biasanya kita bisa membaur cuma pas kelas lecture atau agenda kampus lainnya. Soalnya yang lain seringnya keluar buat cari makan dan kita tau banget lah ya makanan yang dicari kan beda banget. Ketika kita cari makanan halal yang kriterianya super susah karena kita masih ngga tau medannya dengan jelas, mereka cari apa yang mereka pengen tanpa pertimbangan apapun, atau mampir di tempat yang seketemunya. Jadilah bagi kami yang jarang keluar buat cari makan bareng benar-benar mengagendakan acara ulang tahun ini sebagai momen kebersamaan.

Saya turun ke lantai 5 dan lagu "happy birthday" udah dinyanyiin. "Ah, kamu telat. Kuenya udah habis!" kata temen saya ketika ngeliat saya dan temen Indonesia yang baru keluar dari lift. Saya bersyukur dalam hati. Kalo kuenya masih ada saya juga bingung gimana mastiin halal dan mungkin ga enakan banget kalo nolak di depan yang ulang taun itu.

Kami masuk ke satu kamar yang dikorbankan jadi lokasi party. Kasur hotel udah diberdiriin. Kursi-kursi dibawa dari kamar yang dekat. Jendela hotel dibuka. Ada yang duduk di jendela. Gelas-gelas bertebaran di meja dan genggaman. Balon happy birthday udah dipegang temen saya.

Saya masuk ruangan dan...seisi ruangan lagi ngomong dengan begitu semangat.
"Drink, drink, drink, drink!"-terus semua orang yang ada di dalam memaksa temen saya yang ulang tahun buat minum alkohol. Karena ini ulang tahun dia ke-20 dan usia inilah usia legal buat minum alkohol di Jepang.

"So now you are already legal to drink in Japan!" temen saya yang lain bersorak. Ditanggapi dengan teriakan bahagia yang lainnya.

Saya masih kaget dengan apa yang saya liat di depan muka.
*Duh, maafkan kealayan ini ya. belom pernah liat orang minum soalnya.

Kami yang datang dipersilakan duduk. Speechless masihan. Yang lain sangat so-friendly banget mempersilakan kita.

"So, now we must have a drinking game!"-temen saya.
*oh men saya shock. game macem apa lagi ini*
temen-temen bersorak.

Intinya ada game tepuk-tepuk gitu. Kalau tepuknya begini nanti ke arah kanan, kalau tepuknya arah sebaliknya nanti arahnya arah kebalikan. Kalau tepuknya begini berarti loncat satu orang, gitu-gitulah. Barangsiapa yang salah maka ia harus menanggung akibat untuk minum.

*kita yang ga minum shock*

Terus temen saya anak Australia tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan, "Anyone here who doesn't drink?"

Saya kira itu pertanyaan yang menyelamatkan. Beberapa anak Indonesia angkat tangan.

"Okay, dont worry. Dont worry. Because, when you do a mistake, he will drink for your mistake." temen Australi nunjuk ke temen Rusia yang  ulang tahun.
*oh men saya mulai panik-________-
soalnya saya keinget hadits yang intinya siapa yang menuangkan, menjual, dan lainnya saya lupa, dosanya sama kayak yang minum. Ini lagi kesalahan kita bikin orang lain minum, saya pikir ini termasuk dalam yang disebut di hadits itu meskipun saya lupa redaksi panjangnya.

"How if you always make a mistake so we will let him drink and drink anymore?!"-teman saya dari negeri gajah, ketawa. Berharap temen saya yang ulang tahun mabuk malam itu.

Kalau kita bawa air masing-masing mungkin kita bisa minum apa yang kita bawa. Tapi ini time limit.

Terus saya panik dan ngechat orang bahkan grup minta ditelepon.
*duh maafkan kealayan dan kepanikan ini.

menjelang satu menit, tidak ada respon.

akhirnya saya pura-pura telepon orang dan memilih keluar kamar hotel itu. Sampai luar saya baru usaha beneran nelpon orang dan cerita sepuas-puasnya pake Bahasa Indonesia. Yang mana kalau ada orang Indonesia keluar masuk saya kana reflek ganti topik bahasan sama sesuatu yang berbau urusan kampus *maafkan sungguh kepura-puraan alibi ini

at that time, sesungguhnya saya panik banget, karena baru pertama kaliii banget ngalamin pesta minum-minum depan kepala sendiri. dan karena nggak bawa amunissi minuman sendiri terus kalo kena harus meminta orang lain minum.

"kamu nggak bawa minum aja Fit?"
"udah kacau pikiran aku, tadi mikir gitu juga tapi kayak udah mau mulai gitu dan kami sserasa terperangkap di ruangan." -padahal sayanya juga bisa keluar kamar sih.

"selo aja tapi Fit. Mereka biasanya nggak terlalu mempermasalahkan dan ga baperan kok kalo misal kamu nggak ikut. emang mereka kayak kita apa-apa dibawa baper?"

"iya ya?"

Pada akhirnya saya masuk lagi dan permainan tepuk-tepuk itu hampir berakhir dan mereka segera googling untuk meneukan varian drinking ame yang lebih menarik dan asik.
kemudian kami pun hanya menonton.
.
.
.
.
kemudian temen saya dari negara yang sama dengan yang ulang tahun, dengan bangganya mengeluarkan vodka, alkohol 40% itu dari tasnya.
.
.
belum sempat melihat vodka itu dibagi-bagi, jam sepuluh lebih sedikit kami izin duluan kembali ke kamar. Alibi banget lah temen saya bilangnya kita mau istirahat. Tapi kita juga bingung mau ngapain lagi di sana cuma liat orang minum-minum dan ketawa-ketawa.

menjelang setengah dua belas dari kamar, kami mendengar mereka cari bar.
.
.
.

Ada perbedaan kultur yang terasa sekali di sini. Juga mindset.

Besoknya pas saya ngobrol sama temen saya yang bawa vodka. Dia bilang di negaranya umur 18 tahun udah boleh minum soft alcohol. Kalau 20 baru boleh minum yang lebih kuat, vodka 40% alkohol itu kategori yang udah kuat. Dan itu emang biasa di negara dia. Cuma kalo mau minum nggak boleh di jalanan bebas dan dia nggak mau minum terlalu sering karena dia sadar itu akan merusak organ dalam dia.

"But i was drank yesterday, and also the day before yesterday, and also the day before. I drank this three days."
"So do you want to drink anymore this night?"
"I think...no. It is too much drink in this three days ."

***

Bagi kita yang anak Indonesia, kita akan merasa bahwa kalo orang minum, kita akan begitu mudah melabeli orang minum di Indonesia sebagai orang yang pergaulannya bebas, tidak mau diatur, bandel, males kuliah, nggak serius, dan lain sebagainya.

Tapi temen-temen yang saya lihat di sini, yang minum. Saya melihat mereka ada yang belajarnya rajin, antusias, pdkt sama dosennya oke, dan lain sebagainya. Pada akhirnya saya menyadari bahwa mindset tumbuh dan mempengaruhi bagaimana kita memandang orang lain. Toh temen saya waktu saya tanya-tanya tentang kebiasaan minum di negaranya dia menjawab dengan sangat enteng, PD, dan bahagia karena itu memang budaya di negaranya. Teman saya yang lain, ketika tugas kelompoknya sudah cukup berprogress, malam berikutnya dia nggak mau kumpul kelompok karena mau merayakannya dengan minum di kamarnya. Ya semudah itu memutuskan untuk minum. Coba di Indonesia-atau mungkin saya yang nggak tau dan terlalu kuper aja ya-_-, masih malu kali ya kita ngeshare ke orang lain kalo habis minum-minum gitu. Meskipun saya tau sih, tentu saja ada mahasiswa yang minum. It's just not common here.

Waktu saya ngobrol sama Kak Nita, senor yang pernah exchange satu tahun ke Jepang, kakaknya bilang biasanya orang Asia masih deket kulturnya sama kita. Tapi ya mungkin lagi pasnya aja orang Asia yang ikut program ini, selain dari Indonesia, pada minum juga. Pas ngobrol sama Maryam yang pernah ikut acara kayak gini di Indonesia, ternyata anak-anaknya juga nyari alkohol yang dari Indonesia. Hmm, mungkin penasaran rasanya.

Pada akhirnya saya mendapatkan dua poin.
Bahwa kita memang benar-benar tidak bisa menilai orang lain dari satu sisi saja.
Dan, betapa masih banyak PR kita menebarkan rahmat Islam ke seluruh penjuru dunia.



(Teh) yang Halal

credit to capture chat Mu'minah Mustaqimah
ini chat yang LOL banget XD
#ketikatemennanyamakananhalalpakaebahasasunda

*bahasa gampangnya, kalo bahasa Sunda teh itu kayak tuh mungkin ya. Ini teh ssusu, artinya ini susu. Kalu dijadiin arti tuh ya ini tuh susu. Demikian sih penjelasan singkatnya.

Ipeh a.k.a Hanifah Winarto

Rabu, 20 Juli 2016

Pada perjalanan ini, somehow saya ngerasa, hikmah perjalanan bisa bukan pada inti tujuan perjalanan itu sendiri. Tapi dari pertemuan dengan orang-orang di dalamnya.

*sampe rumah saya mau cari foto Ipeh pas PTS terus edit postingan ini dengan menambahkan fotonya

Kali ini saya pengen cerita tentang Ipeh. Nama lengkapnya Hanifah Winarto. Tapi biasa dipanggil Ipeh *namanya juga Indonesia apa aja bisa jadi nama panggilan-ketika tau ga ada yang manggil Ipeh di kelasnya.

Adik kelas jaman (S)MAN yang mudah sekali mengingatkan saya pada pekan taaruf siswa karena barisnya paling ujung depan karena paling tinggi seangkatan putri, yang pakai tompel lakban karena hukuman. Dan kenapa inget banget? Soalnya pas itu  saya jadi tatib, yang mau gak mau mengelilingi para anak baru dan pasti kalo ujung-ujung mah bisa banget ngingetin.

Ipeh lebih muda dua tahun dari saya kalau secara kelas sekolah. Waktu saya kelas tiga, Ipeh baru masuk kelas satu. Interaksi lebih kami barangkali ada di keluarga Divisi Jurnalistik OSIS. Saat kami serah terima jabatan OSIS, maka saat itu pula Ipeh jadi anak baru di Divisi Jurnalistik Agustus 2011 itu. Tapi itu juga paling foto bareng, ngobrol kecil, sama makan-makan traktiran (eh ada nggak sih emangnya?).

Ipeh menjemput saya dan Alim di bandara Sendai Kamis 30 Juni itu. Dia mahasiswa tahun kedua di Tohoku University jurusan International Mechanical and Aerospace Engineering Course Undergraduate (IMAC-U). Mesin lah gampangnya. Dia pake masker, rok jeans, kaos roadshow IAIC yang didesain Ariq, bergo khas Ipeh, dan menggenggam iphone putih dengan casing pokemon berumur satu tahun yang telinga panjangnya masih sehat wal afiat sampai sekarang. Tunggu, ini baru pengantar cerita kenapa udah panjang banget ya :".

Intinya sore itu Ipeh yang jemput saya dan nganter saya dengan selamat ke rumah Mbak Ratri, kakak sepupu saya yang juga mahasiswa Tohoku. Setelah sebelumnya mengajak kami ke Sevel dan nunjukin makanan apa aja yang boleh dan enggak, yang lagi boleh dan suatu hari bisa jadi nggak boleh lagi.

Karena saya di Sendai ada dua mingguan, dan sesekali ketemu anak PPI Sendai seperti ketika di masjid, bukber, dan halal bi halal. Saya sering ketemu Ipeh dong. Ngobrol-ngobrol dikit dan banyak. Nanya-nanya. Terus malam terakhir di Sendai juga ngerepotin numpang di dormnya Ipeh. Saya jadi tau dikit-dikit tentang Ipeh dan itu membuat saya belajar banyak buat diri saya sendiri meski satu dua hal ada juga yang lupa sayanya.

Ipeh kuliah di Tohoku dan dari dulu emang pengen banget kuliah di luar negeri. Meskipun kuliah beasiswa sering terdengar menarik, penuh beasiswa, dan lain sebagainya. Bagi saya cerita Ipeh menggambarkan perjuangan dia. Di Jepang, dia hidup dengan beasiswa uang kuliah yang kemudian dia mengajukan keringanan UKT sampai akhirnya UKTnya nol dan uang 300.000 yen bisa dia bagi buat menghidupi satu semester. Terus Ipeh baito (kerja paruh waktu) dengan pendapatan 10.000 yen sebulan. Sebenernya ini kalo dibandingin sama orang-orang yang beasiswanya lancar tanpa baito, perbulan 60.000 yen mungkin kecil. Juga tanpa kiriman bulanan dari orang tuam Adik kelas yang dapat beasiswa dari JASSO aja ada yang sebulan 120.000-an yen. Tapi kata Ipeh, "Aku mah bisa kak tahan makan nugget, sayur kasih mayonaise. Kalau temen-temen aku ya mungkin kalo bosen sekali-sekali butuh makan di luar."

Dan yang paling bikin kagum adalah...tabungan Ipeh udah cukup buat haji.
*ini harus bangetlah ditebelin.

Kedua, sejak saya tau cerita standar halal Ipeh yang cukup ketat dan logis (ya karena emang masuk akal sih harusnya begitu). Apa-apa saya tanya ke Ipeh. Saya nggak berani beli makanan sevel yang belum dibilang Ipeh halal. Meskipun di Family Market ada onigiri ikan juga, tapi karena produsennya beda saya juga nggak berani beli-dan belakangan saya tahu (dari Ipeh) meskipun sama-sama onigiri ikan, onigiri famima pake emulsifier dan itu bukan dari tumbuhan.

Sebenarnya kalau ngomongin betapa susahnya cari makanan halal di luar negeri, saya kebayang sejak temen saya pulang dari Taiwan dan bawain oleh-oleh camilan serta kue kacang dalam kemasan. Setelah dibagi-bagi, satu dua orang penasaran dan satu produk dicek komposisinya ke website, satunya pake translator kamera karena emang di kemasannya pake huruf (kayaknya China semua). Dan olala dua-duanya nggak halal karena ada yang mengandung anjing dan ada juga istilah yang menyambung dengan kata chicken yang ternyata artinya ayam mati. Saat itu saya menyadari bahwa betapa orang luar memang memerlukan kandungan itu sebagai bumbu masakan. Mungkin kalo kita mah kayak butuh bawang atau kalo buat kue vanili gitu kali ya. Karena kalau dipikir, ngapain bangeeeeet camilan apalagi kue kacang pake kandungan kayak gitu zzz.

Setelah tau susahnya karena ada hal yang nyelip-nyelip di masakan luar, kalau ada ajakan makan saya nggak berani ikut kalau itu belum pernah direkomendasin muslim Indonesia di Sendai. Atau kalau belum nanya Ipeh. Karena sayanya juga masih pusing baca ingredients dan nyamain sama daftar kanji yang haram. Karena judulnya bisa jadi ikan tapi minyaknya pakai minyak hewan. Judulnya tempura tapi masaknya bareng-bareng sama dedagingan lainnya. Susu atau milk tea bisa jadi keliatannya cuma susu doang tapi emulsifier bisa jadi  dari hewan-dan hewan sini nyembelihnya gimana juga secara umum nggak bakal pakai kaidah Islam kecuali dari toko halal. Kecap pun bisa dicampur sama mirin atau alkohol.

Dengan kaidah kehati-hatian yang Ipeh ceritakan secara nggak langsung, saya jadi mencermati dan takut kalau nyobain barang baru. Orang bisa jadi bilang nanti kita nggak bisa makan kalau gitu. Nah pertanyaannya balik lagi sih, makan itu karena kepengen ngicip apa karena nggak ada pilihan lain? Nahlho...

Malam ketika saya nginap di tempat Ipeh, saya mau nyuci kotak bekal yang saya pakai buat bekal nasi pas makan siang di kampus. Karena sistem dorm Ipeh satu unit berdelapan dengan sharing dapur dan toilet, saya nanya, "Ini nyuci pake spons ini peh?" Sembari saya nunjuk spons yang ada di wastafel cuci piring. Terus Ipeh bilang "Biasanya aku nggak pake yang di dapur Kak soalnya itu punya umum, nggak tau kan itu tadi dipake nyuci apa dan bisa jadi nggak bersih juga."

Saya tertarik sampai kehati-hatian ini, di mana sejauh ini saya nggak pernah kepikiran sampai hati-hati pada spons. Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata Ipeh juga punya teflon dan sodet sendiri. Terus saya nanya,
"Kok kamu bisa sih Peh bener-bener sehati-hati itu?"
"Hmm gimana ya Kak, bawaan rumah sih. Soalnya di rumah Abi juga kalau ada ayam yang nggak tau asalnya dari mana nggak akan di makan."
"Terus kalau beli ayam gitu biasanya gimana?"
"Ya kalau nggak di tempat yang udah dipercaya kayak misal dari temen Abi gitu, Abi harus lihat sendiri nyembelihnya gimana."
Pada titik itu saya jadi paham bahwa kehati-hatian Ipeh berasal dari bagaimana ia melihat orang tuanya. Sejauh saya berinteraksi sama Ipeh di Jepang, saya memang jadi mengenal tipe-tipe standar halal yang berbeda pada tiap orang dan melihat tipe Ipeh tataran ideal. Ketika orang ada yang apa aja gapapa yang penting bukan anjing, babi, dan alkohol, ada yang kalo daging di onigiri gak papa, ikan tanpa status halal gak papa tanpa ngecek dulu, yang yaudah kalo daging ga boleh tapi kalo emulsifier gak papa, Ipeh memilih berhati-hati dengan semua itu. Belanja yang halal, bawa kecap sendiri, alat masak sendiri, bilang ke sekretaris lab dia bisanya makan apa aja kalau ada party di lab-nya.

Saya jadi belajar bahwa apa-apa yang dilakukan orang tua memang akan menjadi contoh bagi anaknya. Betapa Abinya Ipeh sangat ingin memastikan bahwa yang halal yang akan sampai pada keluarganya, yang akan menjadi darah dan pembentuk dagingnya, dan yang kemudian akan menjadi apa yang Ipeh terapkan dalam keseharian dan keluarganya kelak. Bahwa barangkali orang boleh aja salah atau nggak sengaja makan yang haram, tapi sungguh Allah akan menilai dari seberapa besar upaya kehati-hatian dan penjagaan diri seseorang.

Ada hal lain lagi sih yang saya dapat dari Ipeh. Tentang gycen, divisi jurnalistik OSIS IC, dan kisah perjuanganya selama di IC. Dua di awal semacam quote aja sih jadi pengen saya tulis di postingan terpisah. Yang terakhir,  saya denger soal cerita perjuangan jatuh bangun Ipeh pas di IC. Pernah urutan rangking nyaris terakhir dari seangkatan, dan lain sebagainya. Tapi saya belajar kalau Ipeh punya kemauan dan tekad juang yang keras yang siapapun bisa belajar dari Ipeh. Itulah yang kemudian mengantarkan Ipeh kemudian sampai di gerbang Tohoku University dan semoga Eropanya dapet ya Peh buat S2 :)
suka banget sama spot-spot ini

Terima kasih Ipeh, you're my Favourite!

p.s. : maaf ya kalau agak berkepanjangan dan kemana-mana :") Kalian harus ketemu Ipeh !

16-20 Juli 2016
Dari Bus Sakura Sendai-Tokyo sampai saat menunggu delay double di KLIA2

Ada di Mana-Mana

suatu hari seseorang pergi,
lalu tiba-tiba ia ada di mana-mana.

-caption terinspirasi dari puisi Aan Mansyur; Akhirnya Kau Hilang

btw, jangan pergi dengan hati gloomy :P

Dari dan Mau ke Mana?

 “It doesn’t matter where I came from. As long as I know where I have to go..”
— Iwan Setyawan, 9 summers 10 autumns

Berangkat selalu adalah sebuah perpindahan, bukan soal besaran jarak. Berangkat selalu bukan hanya soal apa yang dibawa, tapi juga apa yang ditinggalkan. Berangkat adalah soal apa yg perlu disimpan soal kemarin, yang dijalani hari ini, dan yang akan dicapai esok hari.


sejujurnya, dua quotes ini sanagt menggambarkan perasaan pas mau berangkat kemarin.

Dimulai dari temen yang cerita kalau ada temen lain yang punya kesan terhadap saya soal, ya dia kan dari IC. Aku sih apa. Sedih saya sebenernya. Nggak penting aku dari mana. IC mungkin memang banyak membuat saya belajar. Tapi apapun yang saya pos, yang saya tulis, yang saya ceritakan tentang IC, benar-benar bukan bangga-banggaan. Saya cerita IC karena it really means in my life. Sama kayak SMA masing-masing kan? Saya yakin siapapun dan dari manapun kita di masa lampau, yang penting kita tau di depan mau ke mana, mau ngapain, mau bermanfaat dengan cara apa. Dan pada titik inilah sebenarnya saya masih mencari dan meminta bantuan juga doa dari orang-orang dalam memilih lifepath.
.
.
suka sedih kalo orang merasa IC sangat sesuatu, dan saya pribadi ngerasa belum bisa memenuhi ekspektasi itu. Be your self sih emang kuncinya. Orang saya aja masih suka baper kalo liat temen-temen macem Nabil Satria *parametergycenugm, profesionalnya Faradisa, dan Amel. Padahal mah. Hmmm, tanggung jawab alumni sih ya yang lebih besar daripada ketika masih jadi siswa.

Quote kedua, sebagaimana yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Hmmm, nggak mau memaparkan lebih dalam. Silakan dibaca dan diresapi aja quotesnya :")

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS