Jalan

Selasa, 13 Juni 2017

Captionnya antara :
Quarter-life-crisis sama "Duhai Allah, aku mohon bantuan-Mu"

Cibinong, 13 Juni 2017
Iya, sudah lama tidak menulis. Sudah lama ngedraf doang di kepala.

Jakarta dari Balik Jendela

Jumat, 05 Mei 2017

Jakarta adalah rumah-rumah pinggir yang dilihat dari jendela kereta sekaligus bangunan tinggi menjulang gagah yang dilihat dari jendela bus kota. Jakarta adalah banyak cerita yang tersimpulkan dari dua jendela itu.

-Jakarta, 5 Mei 2017
Terlintas di kereta kedua hari ini
Ditulis di kereta keempat hari ini
//masih hutang satu tulisan fit tentang Jakarta

Impact Doing The Best

"Doing the best itu impactnya banyak, dan kadang bukan dari kacamata yang mampu kita pandang saat ini."
-Kak Jay, 5 Mei 2017
pekan lalu pas CEO Talk di MeetUp Badr

Saya menuliskan ini pada catatan di Google Keep sewaktu meetup. Suka lupa ya sama Allah akan menilai segala usaha kebaikan. Sekecil apapun. Dan kita masih suka menilai balasan yang harusnya Allah beri dari kacamata materi saja. Lupa sama nikat-nikmat lainnya. Ya Allah, mampukan kami menjadi hambaMu yang terus penuh syukur....

Doa Air Zam-zam

Senin, 01 Mei 2017

Fatih : "Mbak ini ada air zam-zam", sambil nunjuk oleh-oleh Himmah yang belum saya minum itu.
Saya : "Iya nih Dek dikasih temen."
Fatih : "Mbak, boleh gak Mbak kalo nanti Mbak Fitri minum, Fatih minta sedikiiiit aja satu tetes."
Saya : "Biar doanya dikabulin ya Dek? Emang Fatih mau doa apa?"
Fatih : "Fatih mau berdoa biar Allah kasih rezeki yang banyaaa banget ke Palestina, ke Suriah, ke Rohingnya, pokoknya ke negeri-negeri muslim." Besoknya dia cerita kalau kemenangan itu termausk ke rezeki, makanya mintanya rezeki.
Saya : "Terus mau doa apa lagi?"
Fatih : "Fatih mau doa...semoga semua dosa berubah jadi pahala."
Saya : *terharu, meski yang terakhir lucu juga mintanya, tapi minta kan gratis ya? "Nanti kita minum airnya sama-sama ya..."
Fatih : "Mbak kita boleh nggak sih Mbak minta buat dunia?"
Saya : "Boleh dong Dek, waktu Mbak Fitri minta doa biar lulus, itu buat dunia 'kan?"
Fatih : "Oh, iya juga ya Mbak..."
Saya : *dalam hati * Ya Allah Dek, seumur Kamu bahkan nanya boleh nggak doa buat dunia? Aku seumurmu malah mungkin doanya buat dunia aja :"

redaksi mungkin agak berbeda (karena keterbatasan ingatan), tapi insya Allah konten overall sama

5 Weeks Behind (3)

Hm, harusnya sih 6 weeks behind. Tapi ini udah kepiirannya dari pekan lalu.

Khusus postingan inni pengen cerita soal pertemanan aja sih.

Di tempat baru di Cibinong-Depok ini, sesungguhnya saya tidak punya daily friend sebelumnya.
Sekolah SMP-SMA di lingkungan asrama dan kuliah di Jogja membuat saya kalau pulang suka bingung mau pergi ke mana ata janjian ama siapa. Ada tapi jauh, atau mager, atau ya momen tertentu aja. Paling di rumah juga ya main-main aja sama adik di rumah. Makanya jarang keluar dan kalaupun keluar kalo ada kebutuhan aja. Maka aktvitas tetap selama di rumah adalah dengan daily routine pulang pergi ke kantor Badr, dan ini untuk pertama kalinya setelah hal rutin di rumah saya adalah sekolah SD, wkwkwk.

Di Badr, kebanyakan anak UI. Founder Badr juga alumni Fasilkom UI 3-3nya, yang dua orang satu angkatan, yang satunya jauh lebih senior. Dan sekarang keluarga di Badr sudah hampir 40 orang. Lama-lama saya jadi penasaran sama pertemanan kakak-kakak di Badr, penasaran sama kehidupan kampusnya dulu, juga misalnya eh ternyata Kak ini kenal Kak ini, dsb, hehehe. Penasaran sama asrama apa aja yang ada di sekeliling UI, penasaran sama lingkungan sekitar, penasaran sama kultur kampus UI, dan hal-hal  yang pernah membesarkan Kakak-kakak yang saya kenal di Badr.

Terus kalo abis tau certa pertemanan, misalnya. Saya jadi flashbck ke kampus saya dulu (berasa dah lama --"). Sama juga ketika tau pola organisasi, pola oh Kakak ini dulunya saingan pas di kampus?,  pola oh ternyata Kakak ini dulunya udah temenan?, pola oh Kakak itu pasangannya anak UI juga? Fakultas apa?. atau Eh ternyata ada juga yang sama temen SMA-nya. Wkwkwk gakpentinglah ini sebenernya. Tapi penasaran aja.

Penasaran karena tempat sekolah/kuliah adalah salah satu tempat yang berkontribusi membesarkkan orang-orang yang saya kenal (dan juga kita) hari ini. Budaya sekitar, budaya pertemanan, kultur kampus/sekolah. Dan akan memberi efek juga mana yang memberi kita kesan paling dalam dari seluruh cerita hidup kita, bahkan yang akan berdapak bagi kehidupan setelahnya.

Dan di hari terakhir SxI kemarin, saya sempet bilang salah satu teman (yang sebelum-sebelumnya banget sempat bilang Kalian kok mau sih temenan sama aku, aku kan galak...). Saya bilang, "Terima kasih ya sudah mau temenan sama aku.... :') Karena kalo boleh jujur, saya semacam nggak punya temen di sini. Maksudnya lebih ke yang bisa saya temui dan ajak ngobrol setiap hari, ajak diskusi, dan lain sebagainya. Soalnya pulang ke rumah dan dateng ke Depok tu kayak adaptasi sama lingkungan baru :"").

Terima kasih ya Allah atas pertemuan-pertemuan ini :")


5 Weeks Behind (2)

Rabu, 26 April 2017

Postingan ini mungkin akan lebih ngalor ngidul dan tidak punya alur yang cukup jelas dibanding postingan sebelumnya.

5 pekan berlalu di Cibinong-Depok. 5 pekan bertemu orang-orang baru. 5 pekan belajar mengidentifikasi sesuatu. 5 pekan yang membuat ada kembali pada titik, seteah program ini berakhir, apa yang akan aku lakukan?

Lima pekan belakangan, selain saya menemui banyak perbedaan fisik dari keseharian saya sebelumnya di Jogja, saya bertemu juga dengan lingkungan baru. Teman-teman baru, cara berpikir baru, pengenalan terhadap insight-insight dan metode-metode baru. Tentu saja kebanyakan berasal dari teman-teman selama SXI dan hal-hal yang terjadi di dalamnya. Overall, hal ini menyenangkan. Ohya, lingkungan rumah meski nggak baru tetap memberikan pemahaman baru soal keseharian.

Ada di rumah dalam waktu lama memberikan pemahaman bahwa, sebagai anak di rumah, waktu yang kamu miliki tidak sebebas waktu masih di kosan. Ada di rumah, dengan dua adek yang masih sekolah (kelas 7 dan 2) menuntut peran saya sebagai anak sulung sekaligus kakak untuk adik-adik. Dari nyiapin makan, nyuapin, nemenin main, ngingetin mandi, bahkan sekedar untuk dateng disambut dan ditanyain, “Mbak Fitri kok pulangnya lama banget sih?”. Ya walaupun gak begitu juga sih tiap hari. Wkwkwk.

Saya kadang berpikir, teman-teman yang bungsu, atau mungkin adeknya udah pada gede, mungkin tidak merasakan dinamika ini. Dinamika di mana rumah nggak bisa sunyi sesuai keinginan. Nggak bisa selalu tenang ngelakuin sesuatu tanpa gangguan. Bukan berarti nggak bersyukur kok, cuman sharing aja hehehe. Di rumah dengan adek-adek membuat saya belajar dari Ummi untuk memikirkan selalu provide makanan di rumah. Ibarat Ummi pulang telat pun Ummi sudah memikirkan dari hari kemarinnya besok ini adek-adek pulang harus sudah ada makanan apa yang mereka bisa makan. Punya adik kecil juga membuat saya yang kalo dikosan makannya variasinya nggak terlalu banyak, jadi kenal sama makanan bocil –mulai dari daging olahan cem nugget dan bakso ikan, sampai menu olahan sederhana yang adek-adek dapetin dari majalah anak-anak (contoh : bola-bola nasi). Lucu kalo keinget ginian :”)

Hal ini baru kerasa misal saya main ke tempat temen yang udah gak ada adek kecilnya. Misal saya pernah main ke rumah temen yang di rumah hanya berdua saja sama ibunya. Ayahnya lagi ke luar kota dan adiknya kuliah dan ngekos. Karena ibunya lagi diet ceritanya, ya nanti provide makan buat temen saya kalo ada yang lewat. Ini make sense sih secara masak nasi kalo cuma buat satu orang mungkin rasanya nanggung gitu ya hehehe. Beda sama yang kalo di rumah isinya masih banyak orang. Tapi ini share aja kok no offense terhada tipikal keluarga manapun.

Kemudian di tempat SXI. Part paling menambah pengalaman menurut saya dalah validasi produk yang berbasis dengan kebutuhan (dan keinginan) user. Bagaimana membuat produk yan emang sesuai dengan behavior user. Dan understanding user tuh kayak understanding manusia. Lucu, seru, dan melihat beapa diversenya manusia ciptaan Allah :")

Tapi pelajaran tentu saja nggak cuma saya dapat dari bangku kelas (dah kayak kuliah wkwk). Saya pun belajar bertemu orang baru, belajar berkenalan, belajar berinteraksi. Ini nih sesuatu loh btw. Soalnya dulu sempet saya takut ketemu orang baru. Tapi dak usah diceritainlah kenapanya hehehe. Saya belajar mendengar dan belajar bertemu orang yang karakteristiknya belum pernah saya jumpai sebelumnya. Saya belajar untuk memvalidasi asumsi yang kadang tu kita kayak suuzonan gitu lho sama orang. Belajar juga untuk mengetahui tipe-tipe belajar orang. Belajar juga dengan ikim yang volatile dan agile dan segala dinamika yang kadang udah dipikirin kayak apa tau eh ternyataaa :"" semalam *bahkan dalam hitungan jam* segala bisa terjadi mengubah keadaan.

Maha suci Allah yang memberikan saya kesempaan berada di sini :")



No Loose .

Minggu, 23 April 2017

"There is no loose. Only win or learn."
-Imaji, 2017

Dengan memercayai takdir yang sudah Allah gariskan, tugas kita tinggal berupaya sekuat tenaga. Mengalahkan rasa takut, barrier yang biasa menjadi batasan antara jadi-tidaknya sesuatu dilakukan-atau bahkan jadi tidaknya keberhasilan. Bahasa di The Alchemist-nta Paulo Ceolho mungkin, menjemput takdir..

Tidak ada kalah. Yang ada hanya menang atau pembelajaran. Darinya kita bisa belajar sesuatu. Darinya kita mengevaluasi. Kalo dari artikel medium yang saya baca belum lama ini istilahnya retrospective, atau lesson learn dari pembelajaran selama SxI di Badr.

Semua yang saya tulis di atas, adalah superb ntms buat saya yang masih suka takutan. Kalau ada yang mau kasih insight untuk mengalahkan ketakutan, dan mengubah ide jadi eksekusi, feel free to contact ya :")


Thx Kak Shanin untuk quotes di kala hujannya!

5 Weeks Behind

Sabtu, 22 April 2017

Ternyata sudah lama sekali tidak menulis.
Program shortcourse x internship yang saya ikuti akan selesai pekan depan. Banyak sekali hal yang saya dapatkan selama 5 pekan belakangan. Bukan hanya soal pelajaran-pelajaran selama program. Tapi juga pengamatan soal Depok-Jogja yang kadang-kadang sekadar soal perbandingan. Hal ini suka terlintas kalau lagi di perjalanan. Soalnya bawa motor 30-50 menit itu lama juga ya. Terus sendiri gak ada temen ngobrol.

Instead of program yang saya jalani (niatnya mau ditulis di tulisan terpisah), saya belajar melihat Depok-Jogja secara 5 minggu. Depok sejujurnya tidak banyak saya jelajahi karena ke tepat magang ya lebih banyak menghabiskan waktu di dalamnya. Tapi perjalanan lintas kecamatan-kota ini membuat saya melihat perbedaan kcil intas geografis yang ah sesungguhnya ini mah baru begini doang, masih banyak perbedaan lintas geografis lainnya di Indonesia, bahkan dunia.

#1. Mal
Nggak tau mau nge-poin-in gimana. Selama di Jogja, saya super jarang nge-mal. Seinget saya pernah ke Galeria cuman pas nemenin bude dan demi nemuin temen yang lagi ke sana. Yang lagi seolah tidak ada apa-apa padahal mereka sebenarnya kenapa-napa. Hehehe, kejadian masa lalu sih. Kesana mau bantuinn mereka baikan. Ke Hartono nemenin orang nyari box doang, super spesifik sehingga emang gak pake liat-liat apa-apa. Ke beberapa mal lain cuman ke bioskopnya di tahun-tahun akhir kuliah. Tanpa jalan-jalan keliling mal. Amplaz taun pertama nyari kalkulator, masih naik transjog, dan terakhir kayanya nonton filmnya petinggi FLP. Dibela-belain nonton di awal masa tayang. Pas jaman masuk UGM malnya kayaknya cuma Amplaz sama Gale aja. Jogja berkembang banget soal per-mal-an dan per-apartemen-an. Sebenernya agak sedih juga sih.

Kalo dibaca ulang, rasanya kok jadi hedon banget itu nyebut nama mal banyak banget heu. Tapi percayalah, bahwa kadang saya nonton dengan pertibangan harga momentum, misal ada temen yang mau pergi, atau karena projek nonton dari asrama (yang ini kayanya spesifik di XXI sih), atau ikutan ngeramein film muslim. Nonton bukan tipikal short escape saya. Dan kenapa banyak mal yang disebut karena ada tipikal bioskop yang hargana bisa 25an atau bisa beli 2 gratis 1 dan itu hanya di mal tertentu.

Lucunya, hal ini baru saya sadari waktu hidup di pekan-pekan pertama di Cibinong. Jadi kalau di Jogja saya kenal mau nyari barang ini di mana barang itu di mana. Mal cuma singgah bentar tanpa liat-liat tempat lain. Palingan ya numpang mushala. kayak ke sana cuman ke bioskopnya aja wkwk. Kalo di Cibinong-Depok, ke mal kayak mau beli to do list. Semacam karena belum kenal daerah mungkin ya. Dan semacam, ada toko buku X, tapi di sana mahal banget, terus sukanya ke TMBookstore-nya Detos yang baik hati ngasih diskonan yang akan didiskon lagi kalo termasuk 0 buku pertama hari itu (meski gatau dibanding Togamas murahan mana), dan juga akan disampulin. Padahal Detos jauh dari rumah. Kemudian ke Detos sambil nyari keperluan lain, yang sebenarnya nggak perlu juga nyari di mal kalo di  Jogja. Dan pas nanya senior yang sekarang kosannya di Depok dia ke Detos juga kalo mau beli sabun. Which is, di sana belinya di ~mart (ykwim). Yaampun, i miss mirota, gading mas, pamela, dsb dkk here. Kukaaget yang di Jogja bisa 7.000 di sini 11.000. Padahal sama-sama supermarket :( I miss sunmor yang jual apa aja ada, sehinggaa nyaris nggak perlu ke mal untuk cari kebutuhan-kebutuhan.

#2. Jalan Raya yang Ramai
Di Jogja, apalagi sejak masuk asrama, Jalan Kaliurang adalah sahabat dekat. Saya lewat jalan ini hampir setiap hari. Dari daerah yang masih ramai di bilangan KM 6 ke bawah, sampai ke asrama yang berangsur sepi tapi masih gak sepi-sepi banget. Di Depok, saya samakan jalanan ini seperti Margonda.

Perbedaan #1, adalah, Margonda kalo nyebrang harus pakai jembatan penyebrangan. Jalan tengahnya disekat sehingga rang nyebrang gak bisa bebas nyebrang dimanapun. Which is...motor pun gak bisa ujuk-ujuk nyebrang di mana aja. Harus cari puteran kalo mau muter balik. Kalo kata Abidah, "Iya Fit gue heran di Jogja kok mau nyebrang kita bisa dikasih ya sama pengendara." Jadi kalo di Depok kamu mau nyebrang jalanlah dulu sampe jembatan penyebrangan baru kamu bisa nyebrang-dengan menaiki jembatan itu-. Hm, gak Depok ja sih sebenernya. Saya menemukan hal iini banyak di Jakarta dan pernah juga nemu di Bogor.

Perbedaan #2, adalah, ternyata Margonda di malam Minggu jam 11an itu masih super ramai. Bukan cuman ramai bahkan, tapi macetttt. Saya lupa sih pernah keluar sampai jam segitu apa nggak di Jogja kalo malem minggu. Tapi sejauh ingatan saya ketika pulang dari Jogokariyan ja 10 malam dari sana, dengan mampir jam setengah 11 mungkin masih beli makan malam karena memang belum beli makan, jalanan sangat sepi dan rasanya sangat tidak mungkin ada macet jam 10 malam ke atas. Kalo liburan beda lagi kali ya. Nggak pernah di jalan sampe malem gitu pas muslim liburan.

Perbedaan #3, adalah, Jl. Kaliurang masih lebih ramai dan lebih terang dibandingkan Jl. Raya Jakarta Bogor di malam hari. Ada 3 jalan untuk sampai ke tempat sxi dan saya nggak pernah pulang lewat Jl. Raya Jakara Bogor samai suatu hari penasaran aja pengen lewat sana pas malam. Dan karena itu jalan raya, nyaris tidak ada polisi tidur seagaimana jalan tembus kecil yang biasanya saya lewati. Ukuran jalannya juga lebih besar, secara, itu jalan raya antar provinsi.
Heu, tapi ternyata, jalan raya antar provinsi itu gelap. Lampunya reman-remang dann membutuhkan konsentrasi lebih saat berjalan di atasnya. Di atasnya, saya jadi ingat jalan kaliurang yang terang benderang. Yang saya tidak perlu ragu perlukah menyalakan lampu jauh karena lampu dekat terasa masih kurang.


Bersambung ya insya Allah. Masih pengen bahas soal dunia kampus, budaya sekitar, dan bahkan mungkin soal pertemuan-pertemuan, mimpi, cita-cita, dan kesempatan.




Behavior: /Tingkah Laku/

Kamis, 06 April 2017

So many random things sejak di perjalanan pulang malem tadi sampai detik ini. Heu, jarang-jarang banget jam segini masih melek di rumah. Sampe mau nulis bingung apa dibikin beberapa pos dan tapi isinya dikit-dikit apa gimana. Tapi yaudahlah dijadiin satu pos aja. Kalo mau dipersingkat sih mungkin jadi tingkah laku. Eit sebenernya gak pas-pas amat sih soalnya kan tingkah laku kayak akhlak gitu jatohnya. Sebenrnya lebih pengen ke bahas respon laku. Nahlo apaan tuh. Lebih ke respon manunsia terhadap sesuatu yang jadi pilihan tindakan. Gitu sih keknya. Susah yak ngebahasainnya wkwk.

Tadi diperjalanan, gue lagi kepikir aja soal makul Informatika Sosial. Hem, nyesel sih ngga ngambil makul ini sementara gue *ngeklaim sih, belum validate, wkwk* kalo boleh dibilang, tertarik sama behavior orang yang trjadi karena teknologi (PR, baca buku Hooked). Tapi emang how can banget sih, pengen belajar aja soal ini.

Trus selanjutnya, nggak tau kenapa akhir-akhir ini meski jarang skroling IG, tapi agak mulai reflek kalo cek HP cek ig meski bentar, dan cek IG story. terus kepikir begini.

Hari ini orang-orang berubah cara nyapa orang lain. Dia berangkat bukan dari apa kabar. Tapi lebih ke kepo gitu. Kepo dari mana? Dari IGstorynya salah satunya (pada umumnya ya dari medsos sih). Kepo ini macem-macem ya bentuknya. Bisa nanya kabar, bisa memastikan posisi si lawan bicara. Soalnya kan IGstory suka banget ya ngepos location, time, tempat makan, acara, dsb. Apdet-apdet gitu. Ini juga belum validate sih. Cuman ngerasa dari pengamatan aja (pengamatan sendiri pulak -_-). Hari ini kita nanya orang berdasar rasa ingin tahu dari apa yang sudah dia achieve. Apa ya, semacam kita butuh trigger eksternal gitu loh buat tau. Terus gue jadi penasaran, mana batasan antara rasa penasaran dan memang murni ingin tanya kabar (dan juga mungkin, batasan yang cuman basa basi aja).

Di sisi lain, igstory ini powerful banget men-trigger orang buat berebut update. Wkwk, berebut sebenernya nggak tepat sih. Mungkin rame-rame kali ya. Kadang pesen kita cuman buat seseorang, tapi kita pengen sedunia (follower kita) tau semua. Ngga semua orang suka apdet sih, tapi ya mayoritas senang aktivitasnya diketahui orang banyak. Gue jadi penasaran aja sih, batas naluri eksistensi ini akan sejauh mana kita share dan kalau misal ada yang berubah, titik apa yang kemudian bisa menstop orang buat update. Dulu orang banyak yang suka apdet status di FB. Sekarang bergeser ke IG. Terlepas dari sisi orang ninggalin FB karena banyak debat atau emang males aja nyampah di FB, kalo di IGstory kan ntar ilang juga. Kalau emang buat alasan ilang, gue ngerasa IGstory emang ditujukan untuk lonjakan-lonjakan emosi atau perasaan yang temporer. Canggih juga ya kepikiran beginian si IG. Terus sisi lain mikir : itu dari riset loh, dia dapaet insight dengan membaca pola loh, wkwkwk.

Kemudian, gue habis liat updatean tumblr orang. Terus gue jadi kagum. Di jaman di mana orang berubah mulai menyukai yang instan-instan, masih ada orang yang bisa konsisten mengupdate sesuatu di tumblrnya. Mana isinya bukan curhat tapi sesuatu yang ngebawa value, yang bisa ditulis setelah disarikan dari bab-bab buku. Mungkin sebenanya orang jenis ini nggak sedikit, tapi secara umum, gue masih ngerasa kalau update yang instan kayak IG-IGstory lebih rame daripada tulisan yang udah serius isinya, panjang nulisnya, perlu proses pula bikinnya. Bukan segampang re-blog tumblr loh sis. Bahkan ada temen yang dulu konsisten banget nulis di blog -mana tulisannya juga panjang-panjang dan bikin mikir- sekarag konsistennya apdet IGstor *yah sedih.

Titik ini membuat gue berpikir dan kagum pada sosok-sosok yang banyak bacaannya, banyak referensinya, sehingga dunia yang dia kenal luas. Bukan sekadar ngomongin siapa yang lagi di mana seusuai update-an IGstorynya. Ya ampun, kerasa banget deh quotes yang great people talk about ideas, average people talk about things, and small people talk about other peoples. Kalau mengingat beberapa orang yang pernah diajak berinteraksi, gue cukup teringat sama tipikal orang yang kalo ngajak jalan ke museum, sama orang yang kalo ngajak jalan ke mall. Orang yang bisa tetiba ngomongin artis, dan orang yang dadakannya ngomongin quote atau inspirasi dari orang lain. Orang yang bisa menghargai semua plihan lawan bicaranya, dan orang yang strict dan males duluan kalau lawan bicaranya nggak sama pendapatnya kayak dia. Kalau dulu anak asrama pernah nyebut kondisi kayak gini related to istilah mainmu kurang jauh, pulangmu kurang malam. Hal ini rasanya bisa ditambah sama: insightmu kurang banyak, which is ini adalah turunan dari banyak baca buku atau dapet insight-insight dari sumber lain. Ini juga nyambung sih kalo dipikir-pikir sama quote Farras yang gue pos di postingan tadi (ups, kemaren) siang. Jadi pengen bisa lebih banyak mengisi diri dengan hal baik biar keluar di lisan juga hal-hal baik terus.

Kemudian terakhir, gue abis baca blog Jadn soal tahsin qiroati di sini. Setelah apa yang terjadi di seharian ini berkutat pada dunia pembahasan validasi ide, teknikal mengidentifikasi masalah, dunia finansial, postingan Jadn ini semacam insigt lain yang memberi topik berbeda. Ada hal-hal yang menyulut perasaan sebenernya pas baca. Soal tahsin yang dulu itu, soal sebaik-baik akhlak kita dengan Quran, sampai sejauh apa gue kelak siap menjadi ibu yang bisa mendeliver belajar Quran dengan baik ke anak-anak kelak :" Ah, bersyukur sekali punya teman dengan berbagai kisahnya masing-masing.

Yap, ini random sekali sih sebenarnya. Mari kita akhiri. Besok akan ada perjalanan panjang. Literally perjalanan panjang. Btw, lama gak nulis impulsif begini.



Kata Cermin Hati

Rabu, 05 April 2017

"Setiap perkataan mencerminkan keadaan hati kita."
-Farras, 2017
@badr, ruangan madinah


jaga lisan, sebagai upaya jaga hati
jaga hati, sebagai upaya jaga lisan
kalo ngomong tiati :" bahkan yang kita anggap bercanda sekalipun, bisa jadi standar hidup kita keliatan dari perkataan. kadang nggak semua orang bisa mendengar sesuatu dengan cara tangkap yang sama. cermati lagi yuk lisan kita :")

#ntms

SXI 4 April 2017 : Makhluk Akhirat

"Kita itu sebenarnya makhluk akhirat. Kita suka yang kekal. Masalahnya sekarang kita itu hidup di dunia. Di dunia nggak ada yang kekal. Kita cari kebahagiaan di dunia, nanti jadi sedih lagi. Nggak bakal kekal. Makanya di Islam, manusia yang paling cerdas yang paling sering mengingat kematiannya. Mengingat hari akhir. Pentingnya visi kita kelak akan jadi pertimbangan bagi apa yang sedang kita kerjakan sekarang. Beruntung elo jadi muslim."

"Ya dunia ini emang penuh ketidakjelasan. Kalau kita dikasih certainty dari awal, mungin kita gak pernah doa. Kalo emang uncertainty itu dikasih sebagai cara biar kita doa terus sama Allah, why not? Tau gak, waktu umatnya Nabi Musa nyebrang Laut Merah apa yang beliau bilang ke umatnya? Habis nyebrang itu kan di sananya masa paceklik, apa-apa susah. Beliau nggak bilang sama umatnya buat bersabar. Beliau bilang ke ummatnya buat bersyukur. Kenapa? Karena dalam bersyukur itu ada kesabaran."

"Gue kadang mikir kenapa Allah ngasih gue masalah yang kayaknya nggak dialami sama orang-orang seumuran gue. Lama kelamaan, gue mikir, oh mungkin ini Allah pengen gue berakselerasi Karena kualitas orang akan bergantung sama problem apa yang dia hadapi. Kan di Quran bilang sendiri kalau kita nggak akan dibiarkakn beriman kalau kita tidak diuji. Ya berarti ujian ada untuk ngecek kita ini beriman apa enggak. Kalau ada problem ya selesein jangan lari. Kalau ditinggal malah nanti kita akan diuji dengan persoalan yang sama karena yang dulu itu belum lulus."

@badr, 4 April 2017
Terima kasih banyak Kak @wrismawan
juga untuk fellas fellas semua :  Kak Ridho, Kak Shanin, Abidah
dan Farras yang folower IGnya 1500 *harus banget disebut

A Little Hello for Long Time Goodbye

Minggu, 02 April 2017

Dalam hidup, ada orang-orang yang bertemu dengan kita dengan alasan tertentu. Setiap pertemuan pasti terjadi karena alasan. Tapi yang saya maksud di sini adalah alasan tertentu. Yang spesifik. Yang...baiklah saya sebut saja yang meninggalkan kesan.

Dalam hidup, ada irisan pertemuan yang sesungguhnya cuma secuil dari seluruh waktu kehidupan kita. Tapi kitanya larut dalam keadaan hingga merasa besar bahwa pada pertemuan itu rasanya sudah terjadi terlalu banyak hal yang padahal ujungnya sebenarnya tidak mengarah ke mana-mana.

Atas apapun, sesungguhnya saya sangat berterima kasih atas hal-hal yang membuat saya belajar banyak sekali hal. Yang semoga menjadi jalan agar diri saya menjadi lebih baik.

Jalan tol dari Bandung
-btw, banyak sekali hal yang selama ini terjadi di kota ini ya ternyata
ditulis di Depok, 2 April 2017
00.42

Pada akhirnya a little hello yang kau saya buat editan foto terposkan juga, dengan akhir kalimat yang ternyata cepat untuk diberikan.

SXI Hari 6 : Kemampuan untuk Mendengarkan

Jumat, 31 Maret 2017

-Ini cuma sedikit insight yang saya dapat dari sesi pembuka hari sih-

Hari keenam adalah hari Rabu rasa Senin yang fenomenal. Iya, soalnya Selasanya libur nyepi dan Rabunya jadi rasa Senin. Sebagaimana Senin kemarin yang setelah terjeda dua hari ditanya kabar, hari ini juga ditanya kabar sama Kak Wahyu selaku mentor kami. Ditanya kabar tuh semacam diminta cerita apa saja yang mau dieritain Rata-rata pada cerita kemarin ngapain sih.

Bagi saya sendiri, ada perasaan sulit bercerita awalnya waktu ditanya kabar dan suruh cerita apapun. Jedanya cuman sehari dan Senin kemarin saya udah cerita apa yang saya ddapatkan sepekan sebelumnya jadinya kayak bingung mau cerita apa lagi dan akhirnya saya cerita apa yang saya alami di rumah (doang) Selasanya.Ini mau dirapel sama tulisan hari 2 SXI (lah kok rapelnya malah mundur wkwk).

Di akhir sesi, Kak Wahyu bilang, sesi saling sharing kabar itu bukan cuma biar deket. Nah lho, saya yang selama ini mikir ini adalah sesi ya emang buat biar saling tau, saling kenal, dan bisa mempererat persaudaraan di antara kami gitu kan, jadi penasaran. Kalo nggak buat ini, buat apa dong?

"Jadi sesi kabar-kabar ini tuh bukan cuma buat pengakraban, biar deket, bukan. Tapi juga sesi untuk latihan mendengarkan. Listening itu skill, butuh dilatih." -mungkin redaksi kalimatnya ngga persis-persis amat.

Ya Allah! Rasanya kaget banget pas Kak Wahyu bilang gitu. Iya ya kenapa nggak pernah ngeh dan kepikiran kalo sesi sharing atau khususnya sesi kabar-kabar itu adalah momen untuk belajar mendengar. Kemana aja saya selama ini?

Betapa seringnya momen kayak gini kita sambi sama yang lain. Sama main gadget, sambil ngobrol, sambil makan, sambil leptopan. Sambil main gadget aja bisa diturunin lagi tuh jadi sambil chat, sambil skroling sosmed, sambil main game, bahkan sambil sekedar yaudah main-main aja ngescroll menu-menu di HP ke kanan kiri.

Padahal momen gini udah nggak asing lagi sebenarnya. Momen FM asrama misalnya, atau pas kumpul-kumpul lagi sama temen habis liburan, atau yaudah pas sengaja ketemu temen lama gitu. Heu, jadi sedih, ya belum menangkap skill lain yang harusnya bisa dilatih dari momen ini.

Yaudah, nggakpapa telat daripada ngga sadar sama sekali. Mari berlatih untuk bisa menyediakan diri mendengarkan orang lain :)

@badr, 29 Maret 2017

SXI Hari 5 : Visioning and Ideation

Kamis, 30 Maret 2017

Hari ini dapat materi soal visi an ide startup dari Kak Jay. You may know Kak Jay as tokoh yang cukup dikenal sebagai salah satu pendiri Badr dan sekarang CEO igrow, salah satu starup yang sudah terseleksi ikutan 500 DemoDay dan ikut acara Google Launchpad juga di US. Materinya menarik karena menambah wawasan sekali. Soal gambaran awal dan general soal startup lyfe. Tapi yang paling pengen saya highlight di sini sebenarnya adalah quote yang membekas sekali;

Jadi ceritanya ada orang yang konsul ke Steve Blank soal dia lagi bingung antara dua hal : membangun startup atau menjalani bisnisnya gitu, apalagi semacam mau didanain sama orang terus jawaban si Steve Blank adalah :
"pilihan menjadi founder startup bukan diambil oleh orang yang masih punya pilihan. Karena ini adalah pilihan jangka panjang."

I wouldn't say that i want to be a startup founder now. Kutipan ini mengingatkan saya terhadap teman-teman saya di dunia kampusyang sedang membangun startup di tengah berbagai aktivitas dan keinginan seperti S2, bekerja, dan lain sebagainya, bahkan salah satu temen SXI saya uga merasakan hal yang sama. Sebelumnya waktu Kak Jay cerita soal kenapa sih orang mau jadi founder startup? Ada banyak alasan yang bisa jadi diungkapkan sama orang, bisa jam kerja fleksibel, bisa alasan sekalian wirausaha dan jadi bos (padahal kalo jadi bos sebenernya bos adalah si user-lebih serem lagi), dan lain sebagainya. Tapi alasan menjadi founder startup yang paling baik adalah karena dia benar-benar ingin melakukannya. That's it. Alasan yang sederhana, nggak neko-neko dan banyak mau, serta yaudah dari hati aja.

-itu btw ada kak jay nya di sebelah kanan

Sama mungkin kayak berbagai pilihan dalam hidup, ada pilihan-pilihan yang menuntut kita untuk menjadi apa yang paling kita inginkan, yang harus mengorbankan hal-hal lain yang juga kita inginkan. Tapi, mungkin kayak kata evaluasi-evaluasi RK (dulu PPSDMS) sebelumnya, kalau kayak gitu itu berarti belum benar-benar mau, atau berarti masih keinginan-keinginan saja, belum jadi mimpi.

Kenapa Kak Jay menyebutkan itu, karena mengembangkan startup adalah pilihan yang memakan banyak waktu. Bahkan waktu 10 tahun pun masih menjadi parameter yang sedang-sedang saja, dan 5 tahun masih mencari bentuk. Tidak semua startup bisa sukses denga pertumbuhan eksponensial. Ada faktor-faktor yang kadang tidak bisa terlihat di awal selain kesiapan produk itu sendiri, bisa kesiapan pasar, ekosistem, kondisi masyarakat, momentum yang pas, misalnya. Pengetahuan startup founder terhadap teknis si aplikasi (sebagai bentuk launch startup) bukan harga mati dari produk itu sendiri. Misalnya sekarang, toko-toko online bisa marak karena masyarakat sudah mulai percaya untuk berbelanja online. Jika pada ekosistem ini ada suatu toko online sebagai pendatang baru, kalau bukan karena dana funding yang cukup besar, dia nggak akan bisa survive.

Kalau biasanya startup sering dikaitkan dengan usia anak muda, sebenarnya usia tua pada founder startup pun memiliki kekhasan tersendiri. Orang-orang yang sudah berusia meiliki unfair advantage pengalaman dan jaringan. Orang-orang muda punya kekurangan dari sisi domain expert itu. Ide yang biasa saja dapat ditonjolkan dari sisi eksekusi yang memiliki faktor pembeda, dan hal itu kadang merupakan hal kecil seperti orang dengan pengalaan tertentu yang di-hire, UX, hal yang didapat selama perjalanan eksekusi, dan lain sebagainya. Hal-hal yang muncul selama pengembangan produk tidak akan didapat hanya lewat tampilan muka (interface) sehingga hal-hal internal itu tidak akan mudah ditiru oleh pihak yang misalnya memiliki ide yang sama atau bahkan menduplikasi ide startupnya. Privilege anak muda (seperti anak-anak kampus) biasanya ada dua : ide gila dan tim. Untuk urusan tim ini emang sebaiknya yang sudah pernah mengerjakan sesuatu bersama, nggak bisa orang yang tiba-tiba kenal disuruh ngerjain sesuatu. I guess ini ada kaitannya sih sama kalimat di hari pertama bahwa ide itu sebenarnya receh dan yang sangat perlu dijaga adalah tim.

Teknologi merupakan lokomotif perubahan Kalau kita tidak bisa menysuaikan, maka sulit untuk berkembang. Pas banget materi ini disampaikan ketika di Depok-Bogor lagi rame banget soal demo angkot gegara transportasi online. Tapi emang sih ya, Taksi BurungBiru pun sekarang gabung sama MobilPergi. Bahkan valuasi perusahaan OjekPergi sekarang 17T, lebih tingggi daripada PesawatGI yang punya valuasi senilai 12T padahal sudah puluhan tahun berdiri. Dan di OjekPergi si perusahaan nggak puunya motor maupun driver padahal, nggak kayak pesawat yang sampe sepesawat-pesawatya dia punya. Sama kayak Fujifilm yang dulu kalah pamor sama kamera Kodak. Tapi sekarang Fujifilm masih bisa survive dengan mengembangkan produk kosmetik (iya sih jauh haluannya, tapi dia masih  bisa survive!

Kurang penutup yang pas, tapi kesimpulan dari sesi ini yang paling ngena sih soal startup sebagai pilihan. Semoga bermanfaat :)


diambil dari catatan sesi shortcourse di Badr, 
24 Maret 2017




Siapa yang Buta

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al Hajj : 46)


@badr, kemarin siang
29 Maret 2017
lama nggak ngepos terjemah lagi;
dan bagi saya faakta ini menyiratkan banyak hal :"

SXI Hari 4 : Mentor dan Cita-cita

Kamis, 23 Maret 2017

Seri Shortcourse X Internship ini rasanya pengen saya bikin dari hari pertama, tapi  kemarin nunggak. Semoga ga lama-lama nunggaknya.

Hari ini gajadi sesi kelas. Dan sebenernya nggakpapa kalo nggak masuk. Tapi saya baru tau pas baru sampe, hahaha. gapapalah ada Kak Shanin sebagai temen di sana. (sebenernya kalo tau Rabu Kamis boleh gak masuk saya pengen ke Jogja heu).

Sebagaimana hari kemain, tugas hari ini masih cari sebanyak-banyaknya ide, dibikin madlibs dan poin-poin lainnya buat mendetailkan ide itu. Kadang suka lucu isi idenya. Tapi bukan itu sih yang pengen gue bahas disini. *terus kena efek ngomong gue-elo lagi.

Allah kayak ngeset hari ini bersinggungan sama cita-cita. Tadi pagi Faizah, temen SMA saya nelfon dan kita sempet ngomongin what after this-hal paling hits buat diomongin, walau agak-agak bosen dan semacam bingung ini endingnya apa yaaaa. Faizah bilang apa yang dia pengenin, saya juga.

Dan tadi di Badr, gue tercengang denger percakapan antara Kak Ridho sama Kak Wahyu.
"Maaf ya Kak, lama belajarnya."
"Ih nggak papa saya juga seneng ngajarin orang." Hening bentar. "Saya tuh sebenernya pengen jadi guru."

Skip. Pembicaraan ini gak berlanjut lama dan banyak. Tapi saya jadi semacam menyimpulkan bahwa bener apa yang dulu pernah dibilang Nabil (yang juga pagi tadi saya bahas sama Faizah), bahwa setiap kita mungkin punya semacam keinginan terpendam di hati kecil. Kayak ya kita pengen lah ke luar negeri, caranya gimana? ya banyak. Dikemas dengan mulai hal-hal berbau exchange dan kuliah lanjut sampai sekedar pelesir.

Hal kedua yang saya dapat hari ini adalah soal menulis dengan dokumentasi yang rapi. Bukan dokumentasi dalam arti yang sering dipake kalo lagi nyobain framework baru di kodingan loh. Mentor kami secara gak langsung mengajarkan itu, sambil mengajarkan soal sifat semangat untuk terus belajar dan mengupgrade diri. Heu, semakin jiper.

Selanjutnya satu-satunya catatan selama di Badr tadi adalah soal bagaimana aplikasi itu bisa membuat usernya ketagihan. Semacam misal IG yang kita bosen dikit refleknya skroling IG. Kayak-kayak gitu, katanya ada teorinya di buku yang judulnya Hooked. Saya jadi tertarik karena ini bahas behaviour manusia. Kak Wahyu sempet nyebut istilah behaviour engineering.

Oh ada juga ding, bahas aplikasi yang memudahkan transfer tanpa biaya. Kita bahas aplikasi ini dapet duit dari mana. Dan seperti kita bahas whatsapp dua hari lalu, aplikasi gratis yang gak masang iklan akan menggunakan data kita sebagai hal yang kita bayarkan pada mereka. Who knows apakah pola transaksi nanti bisa ditafsirkan menjadi sesuatu sama data scientist mereka. Oh ya, tadi ditunjukin juga website https://mixpanel.com/ yang bisa digunakan untuk membaca apa yang dilakukan user. Dari web ini kita bisa mantau project kita, si user melakukan kegiatan apa pukul berapa sehingga polanya nanti kita bisa pelajari. "Kadang tugas developer tuh bukan membuat yang baru, tapi menerjemahkan apa yang sudah ada."

btw, hari ini agak terasa 'kosong' setelah ada telpon siang tadi
Cibinong, 23 Maret 2017 21.16

Tahu Bulat

Selasa, 21 Maret 2017

Aku : "Dek, kenapa tahu bulat?"
Fatih : "Soalnya kalau tahu kotak, Mbak Fitri juga bakal nanya, kan?"

Apa yang Terjadi Belakangan? ft. Jogja yang Sekarang Perlu Diusahakan

Hidup berjalan, tulisan saya tidak. Lama-lama 'suka menulis' yang saya gadang-gadang jadi hambar.

Kehidupan menjadi semakin sulit rasanya setelah sidang selesai. Tipikal kesulitan yang berbeda sama skripsi meski sama-sama sulit. Soal identifikasi diri yang tak kunjung selesai dan masih menuai pertanyaan.

Saya menyelesaikan urusan akademik dan semmpat pulang sebelum wisuda. Kemudian wisuda di pertengahan Februari. Lalu sempat ke Bandung di penghujung Februari. Satu bulan dengan secuil pengamatan soal keseharian di Jakarta-Bogor-Jogja-Bandung pengen saya  tulliskan di tuliasn tersendiri. Semoga gak berujung niatan belaka.

Saya mulai gelisah dan hidup dengan kebimbangan. Hahaha *nertawain diri sendiri. Ngobrol sama orang, nyobain apply apa, kepo-kepo akun tertentu, bikin akun di laman tertentu, baca-baca buku, sampai punya tema spesifik buat nyari topik buku tertentu waktu togamas diskon 30%. Di Jogja juga sempat gabung kelas dongeng dan a little bit menolak tawaran nyoba ngajar bocil di perpus kota Jogja yang menyenangkan dan ingin saya coba. Oiya ada juga yang coba bantu solve sesuatu tapi kayaknya belum ngebantu-bantu banget. But that thing makes me learn enough sih :")

Beberapa hal membuat saya pergi lintas kota, semacem pengen pulang atau acara FLP (wkwkwk, mikirnya tes kerja ye :P?). Namun salah satu hal yang saya syukuri adalah. Teman saya menikah beberapa hari sebelum saya tetiba harus ke Jakarta. Alhamdulillah masih sempat datang :') Eh sebenernya itu fase-fase gak mesti pergi-pergi sih. Itu masuknya fase kenalan sama diri sendiri jadi emang officially di Jogja ngurus FLP aja.

Saya apply sih emang beberapa hal. Sejak sidang, saya masih punya jatah kontrakan sampai akhir april dan sepanjang menunggu wisuda saya pikir ngapain ya saya. Ada project KKN yang belum kelar. Tapi sayanya masih belum meluangkan waktu. Pas itu teh rasanya asa harus dikerjain tapi masih belum mendekat nyeriusin ke sana. Ada hal yang harus diedit, yang harus diseriusin, yang harus dirapiin. Tapi fase-fase paska kampus yang belum ketauan arahnya diambah niat saya yang masih belum serius membuat perasaan up and down. Sharing bareng Nikari dan Tyani juga cukup menguatkan saya kalaau mau balik rumah abis Ramadhan aja soalnya Raadhan di Jogja itu....sesuatu banget :"

Singkat cerita, ada program magang yang saya coba dafar di Jogja. Salah satu motivasinya pas itu buat belajar, cari pengalaman, dan kenapa Jogja? Ya biar ngabisin jatah Jogjanya aja. Dulu ada perasaan pengen pulang cepet-cepet. Pas udah di limit waktu tertentu rasanya gimanaaa gitu. Suatu senin, saya dapat kabar alau lolos seleksi magang tersebut, untuk tanda tangan kontrak di hari Rabu. Itu masa saya mulai cari tempat bernaung lain yang bisa bayar bulanan sampe program maang selesai atau bolehlah kalau sampai Ramadhan kelar.

Di hari yang sama saya dapat info shortcourse x internship di Badr buat batch 2. Lokasinya di Depok. Saat itu saya mikir ih kepengen ya daftar program ini. Dulu pas batch 1 masih Januari, Masih urus-urus revisi, yudisium, dan lain sebagainya. Dan finally nggak jadi daftar. Tapi karena saya baru keterima program magang di Jogja ini akhirnya saya berpikir, yaudahlah nanti-nanti dulu aja Badrnya :'. Ikut yang batch selanjutnya eski entah kapan juga.

Hari Rabu tiba. Saya datang ke kantor tempat saya diterima magang dan at that time, saya baru tahu kalau program ini cuma buat KTP DIY karena program magang ini disponsori sama departemen tenaga kerja DIY. Apalah saya satu-satunya yang tidak ber-KTP DIY. Surat kontrak yang sudah di depaan mata cuma saya baca-baca aja dan akhirnya kata mas yang meengurusi kami, nanti saya dikabari lagi, setelah sebelumnya dikasih gambaran kalau saya akan garap bidang apa.

Berkecamuklah pikiran saya kala itu. Which is hari tersebut adalah hari yang sama dengan deadline shortcourse X internship di Badr. Tapi saya khawatir kalau daftar dan keterima terus nanti tiba-tiba dikabarin sama GI (tempat magang di Jogja), gimana, takut dibilang nggak komit atau gimana. Siang itu saya ditanya abi soal kontraknya dan setelah saya cerita (termasuk soal program Badr), abi nyaranin buat nyoba semuanya.

Hari itu saya baru bisa ngelengkapin fornya pas malem. Itu malem jam 9nan gitu dan pas ngisi nggak banyak ekspektasi karena tau batch sebelumnya yang apply 960an orang dan cuma diambil 6 :". Ngisi checkbox keahlian cuman 1, ngisi ekspektasi juga rasanya jawabannya kurang keren, tapi yaudahlah.

Hari senin pekan kemarin, saya ada urusan soal tanya-tanya suatu tes. Hari itu juga saya dikabarin kalau saya ada suatu tes di Jakarta untuk Jumat. Singkat cerita (sebenernya ada cerita lain di Selasa soal jadwal yang tiba-tiba terarrange gitu sih) hari Selasa dapat kabar lolos berkas programnya Badr dn saaat itu saya nggak nyangka banget. Interview di Rabu siang via video call dan telepon, Rabu malem pulang Rumah. Nyampe rumah Kamis dan Jumat ke Jakarta. Subhanallah, dapet pelajaran berharga soal bagaimana rasanya komuter arah Jakarta di jam-jam rush hour :'

Jumat malam itu juga ada pengumuman saya lolos program Badr. Cukup surpise di mana saya saat itu mulanya tidak banyak berekspektasi. Soal waktu dan kesempatan, emang hak Allah banget ya. Kabar itu membei arti banyak hal. Berarti saya akan meneruskan kepulangan ini selama beberapa pekan ke depan. Bahkan juga pada artian bahwa ada banyak hal yang saya tinggal di Jogja. Semacam Jogja yang tetiba menjadi hal yang harus saya upayakan *tiket pas long wiken dah habis semua :"(

Ada semacam perasaan aneh pergi tanpa pamit. Ya sebenernya saya juga nggak tahu kalau bakal pergi sebentar eh tapinya jadi agak lama. Ada hal-hal yang saya tinggal di Jogja, bahkan termasuk amanah hingga Mei di FLP yang sekarang hanya bisa saya bantu dari jauh. Kelas dongeng yang pengen ambil bagian banyak di dalamnya. Kenalan sama orang baru yang belum maksimal. Qtime dengan anak kontrakan (diskusi woy bukan ngobrol). Qtime diskusi berfaedah dengan anak Gycjog. Barang masih di Jogja banyak banget karena belum pindahan samsek (pulang ini aja gabawa daily things). Nggak bisa dateng sidang Maret *ya Allah sedih banget ini temen-temen sebimbingan ada tiga T.T. Nggak jadi pinjem komik Conan-nya Farah yang punya dari nomer 1 sampai the latest. Dan juga ngak bawa buku-buku yang saya bilang beli di Togamas pas diskonan itu. Urusan-urusan di rumah kontrakan bahkan jemuran yang baru saya jemur sebelum pulang karena mikir gak bakal lama pulangnya. Hadiah buat orang-orang yang belum saya kasih. Dan lain sebagainya.

Ada semacam hal yang mengganjal. Soal pergi tanpa pamit. I dont know which one best antara kabar pergi yang tiba-tiba sehingga kita tidak bersedih sebelumnya (akan menumpuk di akhir sih mungkin abis tau gitu) atau memang pergi yang dikasih intro dan briefing dulu. Tapi bagaimanapun, kejelasan akan menjelma jadi kelegaan sih. Tapi saya ngeh satu hal bahwa kita harus siap dengan rencana-rencana Allah dalam hidup yang kadang kayak lonjakan dan ledakan. Di Badr, niat saya untuk belajar dan dapet pengalaman. Apa yang ingin saya capai selepas program Badr ini i still dont know. It's still a mystery. Sekarang niatan saya mau mulai nyoba nulis banyak lagi. Gitu aja sih dulu. Mohon doanya biar bisa belajar sebanyak-banyaknya dan ngasih manfaat juga buat Badr. Sekian.


mulai ditulis di Badr, diselesaikan di rumah

Jarak

Senin, 06 Maret 2017

Semoga jarak yang ada diantara kita tak sia-sia. Semoga jauhnya kita di dunia adalah jalan untuk bersatu abadi di surgaNya.

-dikutip dari tumblr bulek hana. dah lama gak baca. tulisannya tentang orang tua kok. Tapi kalo dipikir-pikir yang kalimat pertama maknanya luas #eh


heu, dah lama gak nulis. kangen. kangen mulu.

Dongeng - Naura

Titip Salam dan Kartu Pos

Sabtu, 04 Februari 2017

Waktu berjalan. Banyak hal berubah. Saya ingin mengangkat dua hal ini.

Pertama, soal titip salam.
Hal ini terngiang pasca saya ketemu teman. Yang dia juga kenal teman saya yang lain. Mereka ketemu di suatu program.
Nah terus kan, kadang tu kta kalo kenal temen yang kenal temen kita yang lain kan suka mikir, nitip salam ah. Tapi pas itu saya jadi kepikir aja sih.
Orang dulu suka titip salam karena nggak punya alat komunikasi pribadi. Kalau punya pun biayanya tidak semurah sekarang. Makanya jadi priceless banget kalau kita dapat salam dari siapa gitu, terus nanti heboh sendiiri. Eh, ketemu di mana? Gimana dia sekarang kabarnya? dll. dsb.

Kalo sekarang, pas saya mau titip salam aja rasanya lidah jadi kelu. Terus balik nanya ke diri sendiri, selama itu kah kita nggak ngontak dia? Padahal kamu punya akun-akun dia dari nomer HP, WA, akun Line, FB, IG, Twitter, bahkan alamat email. Sedih eh . Btw, ini bukan berarti nggak boleh titip salam ya. Terus kalo sekarang kadang ada hal-hal yang membuat kita jadi tau sebelum bertanya. Apa? Nice. Benar. Sosial media. Hahaha, tapi suka lucu juga kalo misal saya dulu pernah bilang ke temen. "Kamu ngerjain kuisioner apa Fid?"  Terus dia kaget gitu, "Kamu tau dari mana Fit?". Wkwk, heran yah, orang dia sendiri yang publish ke igstory. Akhirnya kita bahas soal orang yang masih suka kaget kegiatannya diketahui orang. Padahal  tanpa sadar dia sendiri yang secara tidak langsung mengumumkan pada dunia kegiatannya apa.

Kedua, soal kartu pos.
Jadi waktu itu lagi bongkar foto-foto lama yang ada di album. Foto-foto jaman masih pake kamera film belum digital. Terus ada kartu pos Malaysia nyelip. Gambar petronas.
Terus Abi bilang, "Sekarang kita cari gambar di pinterest bisa nemu yang jauh lebih bagus."
Terus saya jadi notice satu hal : ketika itu, jaman internet belum aksesibel oleh seluruh umat di muka bumi (lebay amat). Ngasih oleh-oleh kartu pos sama dengan berbagi keindahan kota yang kita kunjungi. Yang mana kartu itu bisa temen kita pegang dan bawa kemana-mana dia mau. Di pigura buat hiasan kamar juga bisa. Pendek kata, that's very worth it. (saya aja belakangan sempet kepikiran ngebingkain postcard).

Kalau sekarang, rupanya berbagi kartu pos sebagai oleh-oleh (yang bukan dikirim langsung) not very recommended. Bayangkan bahwa we can google it everywhere and everytime (sejak kapan google jadi kata kerja?). Bahkan kalo kita mau liat Paris kita pake google streetview juga bisa. Itu bahkan ndak cuma liat, tapi ngerasain jalannya. Menjadikan gambar-gambar itu wallpaper smartphone dan laptop, bahkan ngeprint gede-gede tempel di kamar juga bisa. Teknologi memudahkan semua itu.

But, trust me.
Getting postcard means you are one of someone who is loved by your friend.

Perasaan Hari Itu

Kamis, 02 Februari 2017


Sulit sekali memposisikan perasaan kita seperti perasaan anak-anak. Kita yang sudah dewasa kan kadang mikir, ngapain sih kayak gitu, buang-buang waktu. Nggak produktif, Padahal ya nggak kayak gitu kalau di mata anak-anak. (Ummi, besoknya dari yang mau saya ceritain di bawah).

Sabtu kemarin saya ikut jemput adek saya di SMPnya. Pulang kemping. Sudah banyaaaaak sekali orang tua murid yang menunggu. Daerah sekolah adek saya ini semacam jalan baru gitulah jalan raya besarnya (itu loh deket stadion pakansari yang dipakai AFF #loh). Mungkin karena lumayan baru, belum ada trayek angkot gitu yang lewat sini. Jadinya banyak banget orang tua murid datang menjemput. (Kalo saya pas SD mah mesti ngangkot ngojek sendiri dulu wkwk).

Ada ekspresi-ekspresi wajah yang saya tangkap di sana. Menanti. Menunggu. Semuanya menyiratkan harap. Hmmm, ya mungkin sok tau sih. Tapi saya merasa ada harapan yang tersirat di wajah-wajah para orang tua. Baik harapan agar anaknya cepat sampai sehingga cepat pulang maupun harapan bisa segera mendengar cerita si anak sepulang kemping. Pun begitu dengan wajah Ummi. Ya ampun jemput anak pulang kemping aja se-sesuatu itu ya ternyata.

Saya sempat nanya, apa harapan Ummi Fahri pulang kemping. Isinya sih seputar itu-itu aja sebenarnya. Mandiri, pengalaman, sosialisasi. "Semua orang tua pengen anaknya bisa sosialisasi sama yang lain." Sosialisasi itu skill. Berikut kemampuan komunikasinya. Saya jadi ngebayangin. Ya ampun jadi orang tua tuh ya. Kemampuan anak bisa bersosialisasi pasti bukan hal kecil bagi mereka. Kita yang udah besar dan alhamdulillah sudah punya banyak teman mungkin mikir gak sesusah itu kok. Tapi bagi orang tua yang ngamatiiin banget masa pertumbuhan anak, that's not a litttle thing.

Truk tentara yang dinaikin Fahri sampai sekolah. Dia setelah bawa barangnya turun, masih harus beberes perlengkapan kelompok dan ngumpulin di salah satu ruangan sekolah. Terus Ummi sempet bilang ke saya, "Tu...belajar bekerja sama." Saya cuma mikir pendek aja sambil bilang"Ya mi namanya pramuka, kemping, pasti kerja sama lah mi." Terus abis itu saya jadi mikir. Kerja sama is a little thing. Tapi bagi orang tua mungkin nggak. Ngeliat anaknya bisa berbaur, bisa kerja sama, saling membantu dan tolong menolong tu bermakna besar. Berarti anaknya diterima oleh teman-temannya, anaknya bisa menjadi salah satu bagian dari yang bekerja sama, anaknya punya peran. Heu, kenapa ya telat banget koneknya saya.

Tadi saya sempat bilang soal harapan. Harapan, kalau saya boleh bilang, hadir bersama kekhawatiran. Barangkali setiap orang tua memacu hari dan melaju bersama kekhawatiran. Yang harus ia kalahkan dengan harapan. Pada titik menjadi orangtua, potensi berbuat sebaik mungkin akan keluar dengan maksimal, untuk mematikan kekhawatiran dan merealisasikan harapan.

Pada titik ini saya kemudian bertanya pada diri sendiri. Saya di masa depan, akankah ingat perasaan hari ini? Sebagaimana barangkali Ummi juga mengingat pulang kemping anak-anaknya beberapa tahun lalu pada hari ini. Dan berupaya memperbaiki apa yang kurang di hari-hari dulu.


Sabtu, 29 Januari 2017

Di Rumah

Rumah ramai. Barangkali sampai beberapa tahun ke depan masih akan tetap seperti ini. Fahri dan Fatih yang berebut bicara. Dan keduanya yang masih suka berantem, masih suka saling nuduh siapa yang salah, masih suka ngancem-ngancem, masih kadang-kadang gampang ngambek.

"Mbak, patung liberty itu megang pisang ya Mbak?" Fatih dengan muka tanpa dosa ngomong gitu. Sembari ngangkat pisang yang dia pegang ke atas ala-ala gaya patung liberty.
Saya melongo.
"Kok Fatih nebak gitu dek?"
"Habis kayaknya mirip Mbak"
.
"Tadi Fatih dikatain kayak tuyul..." dianya abis cukur rambt soalnya.
"Tapi Fatih seneng soalnya kalau gitu nanti Fatih dapat pahala, ya kan?"*ada hadits yang related sama ini tapi dicari dulu ya.

Belum lagi semalam saat mereka bahas 411 dan 212. Weh, kaget juga saya mereka bahas ginian. Tau juga mereka. Kadang saya tanya, tau dari mana dek? ke adek yang 2 esde. Kadang dijawab dari majalah ini mbak, membaca kan jendela dunia. Yaampun ga nahan banget mukanya. Kadang juga bilang tau dari Abi. Atau belajar dari Ummi.

Lucu juga kalo adek yang gede lagi ngambek kesel gitu sama Abi.. Terus si bungsu dengan baiknya bilang. Mas, Abi tu cuma tegas. Kan Abi ayah. Abi udah capek, lho.
Gahabis pikir aku rasanya ni anak positif bangeeeet.

Terus kalau dengar cerita masa-masa Ummi sama Abi lagi pas banget nggak bisa poulang ke rumah cepet. Adek saya yang udah lumayan besar cerita mindahin perkakas tidurnya (fyi, perangkat selimut, bantal, dan guling dia paling rempong sedunia, dan dengan begitu dia ga bobo pake kasur. kasur busa malah dia pake sesekali buat selimut) ke rumah tetangga jaga-jaga abi beneran ga pulang. Udah dia pindahin semuanya macam pindahan,  Alhamdulillah Abi pulang,m pindahan heboh lagi deh dia.

Terus juga waktu mau dilatih bobo berdua di kamar gitu. Si kecil gajadi mau bobo di situ (selama ini dia bobo di kursi tengah dan menurut dia itu kasur ternyamannya). Yang gede ikutan pindah, dan harus ngelewatin Abi yang sedang melingkar. "Fatih mah enak, bantalnya cuma dua. Fahri kan banyak. Bolak balik diliat temen-temen Abi...." Ye...siapa juga dek yang nyuruh perangkat tidurmu sebanyak itu :v.

Menjadi anak pertama, saya ingat benar waktu kami baru pindahan. Kemudian pintu depan belum bisa dikunci. Seluruh barang ada di satu kamar. Bersesakan dengan kami yang tidur di kasur kapuk di atas lantai. Waktu berjalan, ada kasur-kasur baru yang dibeli dan menggantikan kasur lama. Tapi ironinya, dua bungsu di rumah malah gakada yang tidur di kasur sekarang, atas pilihan mereka sendiri wkwkwk. Meanwhile kasur aku sama Fafa justru kepake pas liburan doang. Bakal baru bingung dia kayaknya kalo temenya mau main ke rumah dan dia bingung ga punya kamar. Padahal kaka-kakanya tiap liburan udah nyupport dia nempatin kamar yang ada. Emang niatnya aja belom gede, dan karpet masih terlalu nyaman buat dia wkwk.

Menjadi anak pertama, membuat aku ketika lagi rame-rame membicarakan tingkah konyol mereka kemudian bertanya balik ke Ummi. Aku dulu kecil  yang kayak gitu gimana Mi? Kemudian dijawab dulu aku ngelarang temen-temen kecil buat terompetan pasmau taun baru. Bukan budaya Islam. Gilak. Kaget aku pas tau ehehehe. Nekat amat ya emang anak kecil. Mana pake tereak-tereak gitu ngelarangnya. Ga tau tempat dan waktu yang pas lagi ckck. Buat tau harus nanya soalnya ngga ada kakak yang menyaksikan.

Menjadi anak pertama, membuat saya kagum sama mereka yang pada hari tertentu pas pulang belum tentu udah ada Ummi dan Abi. tapi mereka dah paham to do list yang harus mereka lakukan. Jamanku dulu mah belom gitu. Pasti ada orang pas aku pulang sekolah atau misal ke RSB tempat Ummi kerja jaman itu, atau juga ngekor ke kantor Abi sampe pulangnya sore bareng Abi pulang kantor.

"Sedih nggak dek kalo pulang ngga ada orang?"
"Fatih mah udah biasa Mbak' Cuma kemaren-kemaren kan nggak kayak gitu (pekan kemarin2 sebulanbelakangan ada aku sama Fafa di rumah gantian)" Lalu dia sok pura-pura nangis. Ah dek, hebat kamu.

Menjadi anak pertama, membuat aku suka takjub sama progress yang adek-adek lakukan. Kok bisa ya dia tau ini itu dan ternyata dapet dari Ummi atau Abi. Terus aku nanya ke diri sendiri, bisa gak ya ku kek gitu kalo dah jadi orang tua. Masih lama sih, tapi berasa takut aja gitu. Ya kadang yang udah gini aja masih suka susah dibilangin satu dua hal. Wuh gempuran godaan anak masa depan cemana.

Kadang suka mikir, dek jangan cepat-cepat besar. Hilang nanti lucunya.

Lama Ndak Nulis

Rabu, 25 Januari 2017

Lama dak nulis. Laptopnya beberapa tombol mati. Sepeti huruf a, q, z, angka 1 sekalgius tanda !-nya, tombol tab, serta simbol ` dan ~. Yang paling kerasa bagian huruf a, hmmm sama mugkin angka 1 dan ! (eaaa apakah tertebak aku nulis apa ya kalo pake huruf, angka, dan simbol tersebut?). 

Hanya segitu, tapi kadang dah jadi alasan aja untuk agak malas membuka laptop. Karena harus mempaste setiap mau nulis hal-hal yang error tersebut. Padahal esensinya mah ndak disitu. Sepekan lalu lumayan deadline sesuatu. Jadilah ku nulis pakai hp. Alhamdulillah tugas tersebut selesai juga :").

Padahal sejatinya, banyaaaak hal yang harus disyukuri. Kamu masih bisa mikir, ketikan tidak akan berlangsung tanpa nikmat kamu yang masih bisa mikir. Laptopmu masih ada, dengan segala data yang dijaga dengan sebaik-baiknya. Kamu masih punya smartphone, yang bisa kamu pake nulis walaupun formattingnya susah. Juga hamdallah, itu terjadi di detik-detik akhir urus revisi--termasuk jatuh dari motor saat mau jilid skripsi :""".  Somehow, that's all enough but we still ask for more. 

Sudahlah, ndak usah banyak-banyak. Ndak usah menyalahkan. Kangen nulis, kangen mbaca blog orang-orang. Biar ndak maenan sosmed, ngechat, ama scrolling ig mulu


Literally Rumah, 25 Januari 2017

rin.du

Sabtu, 14 Januari 2017




"Tidak semua rindu perlu diungkapkan. Namun tidak ada rindu yang perlu dipaksa untuk dilupakan. Barangkali pada beberapa hal...perlu dimaafkan."

-edisi habis baca kumcer agak berat  (makanya tulisan di atas mbingungi, abis ceritanya mbingungi...). lalu tetiba ingat sesuatu.

hari ini ada roadshow di IC. sudah tiga tahun berturut-turut tidak ikutan.
tanah itu. bangunan itu. kesan itu. pelajaran itu. perasaan itu. sikap itu. orang-orang itu. kebiasaan itu.
semua punya peran yang begitu besar rasanya. walau berkali-kali tengsin sama ke-'langit'-am teman-teman, tapi tetap saja....ha;-hal yang telah dilalui bersama selama tiga tahun masa aliyah selalu mans untuk dikenang :")
ada yang berbeda pada roadshow. ialah interaksi yang bisa terjadi langsung dengan adik-adik kelas (yang sekarang sudah tak kenal, tapi tetep aja pengen kenal), juga kesempatan liat ruangan-ruangan IC yang baru yang kalo kita nengok IC pas lagi hari biasa ndak mungkin dibuka. semoga ada usia untuk silaturahmi dan pulang kembali ke sana :)

sudah lah, nanti kepanjangan. kan...tidak semua rindu perlu diungkapkan .
dengan segala kenangan itu, kalian apa kabar?

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS